Rumah untuk Ara (Bagian akhir)

     "Daniel, kapan gue bisa bahagia mencintai orang yang benar-benar mencintai gue juga? Jujur gue capek mencintai sendiri" Tutur Ara dengan nada pelan.
     "Satu hal yang gue amati selama bertahun-tahun menjadi sahabat lo, lo terlalu mudah menafsirkan perasaan yang ada dalam diri lo sebagai perasaan cinta. Dengan kata lain, lo gampang banget jatuh cinta dan akhirnya karena lo gak memahami pasangan lo secara mendalam, lo gampang putus cinta. itu yang membuat lo capek dengan diri lo sendiri. Itulah mengapa mereka sering mempermainkan perasaan lo"
     Ara tercenung dan memandangku lekat-lekat tanpa bersuara.
     "Iya Niel, bahkan gak jarang gue yang mempermainkan mereka, lalu ketika gue benar-benar mencintai satu orang,dia meninggalkan gue begitu aja. Seperti hukum aksi reaksi ya?" Tutur Ara .
     "Tahu gak Ra? Kalau ibarat binatang, lo ini seperti siput. Lemah, lamban, rapuh, dan selalu mencari rumah yang cocok untuk ditinggali. Kadang rumah lo terlalu sempit, sehingga lo gak nyaman dan terbatas dalam gerak lo,kadang rumah lo juga terlalu besar, sehingga lo gak kuat membawanya dan akhirnya lo terkurung didalamnya." Tuturku dengan nada setenang mungkin menjaga perasaan Ara .
     "Lalu gue harus gimana?" Tanya Ara dengan helaan nafas panjang.
     "Celyara Mahani, lo hanya perlu mencari rumah yang pas untuk lo . tidak perlu terlalu besar, yang penting lo hanya nyaman tinggal didalamnya untuk waktu yang lama bahkan selamanya. dengan kata lain, lo juga harus melihat pria yang benar-benar mencintai lo, Ra" Tuturku tanpa sadar menggenggam tangan Ara .
     Ucapan terakhirku membuat Ara menitikkan air matanya, kemudian ia memelukku dan menangis dipelukanku.
Aku tahu, sore ini Ara telah meninggalkan "Rumah" masa lalunya. Ara mengerti bahwa air mata diciptakan bukan hanya utnutk meluapkan kesedihan, air mata Ara kini adalah air mata bahagia, karena ia telah menemukan rumah yang pas untuknya. 

Komentar

Postingan Populer