Penyelesaian

     Dibawah pohon angsana kampus, aku memandang kertas polio yang masih putih, belum tertulis sesuatu apapun untuk tugas linguistik umum.Lagi-lagi mataku menangkap sosok laki-laki yang sangat familiar dimataku. Seseorang yang kujumpai di jurusan seni rupa bulan lalu.Ya, seseorang yang kerap kali kutemui dikebetulan yang selalu menyelamatkanku, entah disaat aku ditodong didalam sebuah angkot, ia menolongku kabur, saat aku ingin tertabrak mobil dijalan, ia menarik tanganku hingga mobil itu lalu menabrak motor didepannya, namun, ia menghilang begitu saja sehabis adegan penyelamatan itu, dan selalu begitu tanpa aku tahu siapa dia sebenarnya.  Aku semakin takut bertemu dengannya, semakin takut bahwa sesuatu akan terjadi kepadaku. Aku mencoba untuk terus fokus dengan tugasku yang besok akan ditagih dosen, analisis morfologi. Tanpa menyadari, laki-laki itu sudah duduk disampingku, menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Aku benci keadaan ini, keadaan dimana aku harus terkepung diantara asap-asap rokok yang menyesakkan.Segera ku beranjak dari bawah pohon angsana yang teduh itu.
     Namun, sebuah tangan yang besar dan kekar menahanku . Tangan lelaki itu. Aku semakin takut, maka kucoba untuk melepasnya dan lelaki itu semakin mempererat pegangannya dan tidak menoleh sedikitpun kearahku . 
     "Mau apa kau ?!!" Jeritku , namun lelaki itu hanya memandangku dan diam .
     "Lepas!!!" Teriakku lebih kencang, namun kali ini lelaki itu hanya mematikan rokoknya dan berdiri menghadap kearahku. Postur tubuhnya yang tinggi semampai membuatku terlihat seperti anak kecil yang sedang dituntun oleh ayahnya. Aku berteriak-teriak meminta tolong, dan ia makin tajam memandangku.
     "Diam ! atau kau akan mati,bodoh!" Teriaknya lantang . Kemudian ia mengarahkan tangannya kebelakang kepalaku,aku panik, jangan-jangan ia mau memperkosaku,namun tatapannya teduh .
Ternyata ia mengambil sesuatu dipunggungku, dan mengacungkannya kearahku. 
     "Ini, dasar bodoh!" Katanya yang membuat air mataku hampir tumpah. Seekor kalajengking seukuran jari telunjuk membuatku terperanjat . Lalu ia menginjak kalajengking itu dengan sepatunya. Aku tak mampu mengucapkan kata terimakasih yang seharusnya sudah kukatakan dari tadi, tetapi aku hanya bisa menangis, dan ia tetap memandang kearahku dengan tatapan yang seperti biasanya, angkuh.
     "Siapa kamu sebenarnya? kenapa kamu selalu mengikutiku?" Tanyaku dengan suara parau yang kuyakin ia tidak mampu mendengarnya.
     "Kau tak perlu tahu siapa aku, yang harus kau tahu, suatu saat nanti aku akan melepas jiwa dari ragamu" Kata-katanya membuat lututku lemas, namun anehnya nada sinisku kembali keluar.
     "Hahaha kau pikir kau siapa? Tuhan? Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang!" Lagi-lagi aku melantur, kebetulan-kebetulan ini bisa membuatku gila. 
     "Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan hidupmu,dengan begitu tugasku akan selesai, tapi tidak bisa, tidak bisa saat ini" Lanjut lelaki itu lagi, aku semakin kesal.
     "Dasar gila !" Aku memakinya lalu berjalan kearah jalan ramai, dia tidak mengikutiku, tidak juga mengekoriku, saat aku melihat kebelakang, ia sudah tidak ada. Lelaki gila, dia pikir dia siapa ? Lelaki bodoh.
     "Kini, aku dapat menyelesaikan mu" Sebuah suara lelaki itu entah datang darimana, aku terus menoleh, dan aku berlari ketakutan, sangat takut. Hingga sebuah jeep mengarah sangat dekat kepadaku, dekat, dekat, dan semuanya gelap.

Komentar

Postingan Populer