Cinta itu percuma (bagian 1)
Suara klakson merepet dengan nyaring disekitaran Jalan Sudirman seperti alarm bahwa jam kerja telah selesai. Rasa kantuk dan lelah sudah tak tertahan,tetapi sahabtku yang satu ini masih saja bersikeras mengajakku keluar makan malam dikafe baru didaerah Senayan. Pandangnku beralih ke wajah Bobby yang sedari tadi hanya memaki jalanan ibu kota yang macet dan amburadul setiap kerja.
Aku menahan tawa, ekspresi Bobby ketika menyetir mobil sangat lucu. Postur tubuhnya yang tinggi membuat ia bungkuk ketika menyetir mobil dan selalu terlihat seperti ia memeluk setir mobilnya.
Bobby adalah sahabatku sejak kita kuliah ditingkat dua, saat itu aku dan Bobby dipertemukan disebuah aksi mahasiswa anti korupsi. Bobby adalah mahasiswa yang sangat rajin,kami berdua menekuni bidang akuntansi, berkat kerajinannya itu, ia lulus terlebih dahulu dengan predikat cum laude, sedangkan aku lulus setahun setelahnya. Kemudian, Bobby merekomendasikanku untuk bekerj diperusahaan tempatnya bekerja.
"Hei Cesar, kita sudah sampai. Bengong terus kamu. Turun yuk, laper nih . " Kata Bobby sambil memperhatikan wajahku yang sudah mengantuk dan lelah sekali walaupun baru pukul tujuh malam.
Bobby membawku ketempat yang menurutku berlebihan untuk sekedar makan malam. Ada lampu kerlap-kerlip warna-warni disekelilingku,dan parahnya, Bobby memilihkan meja disamping kolam renang,rasanya aku ingin sekali menceburkannya kesana.
Bobby memesankanku tenderloin steak , menu yang sangat menggugah selera untuk makan malam ini.
"Ces, sadar gak sih tahun depan umur kita udah dua puluh lima?" Tanya Bobby padaku.
Aku terdiam sebentar. Booby dan aku hanya terpaut dua bulan, Bobby lahir dibulan Agustus, sedangkan aku dibulan Oktober.
"Ya, aku tahu. Aku rasa diusiaku yang hampir menginjak tahun perak ini, aku sudah mendapatkan semua yang kumau" Jawabku mantap, lalu Bobby tersenyum.
"Maksud aku bukn itu Ces, maksud aku, apa kamu tidak berpikiran untuk menikah? membuka hatimu lagi untuk lelaki dan mulai melupakan kenanganmu bersama Amri. Amri pasti bahagia diatas sana melihatmu ada yang menjaga" Tutur Bobby. Tanpa sadar, wajahku tertunduk dan pelupuk mataku basah oleh air mata.
Amri..
Aku menahan tawa, ekspresi Bobby ketika menyetir mobil sangat lucu. Postur tubuhnya yang tinggi membuat ia bungkuk ketika menyetir mobil dan selalu terlihat seperti ia memeluk setir mobilnya.
Bobby adalah sahabatku sejak kita kuliah ditingkat dua, saat itu aku dan Bobby dipertemukan disebuah aksi mahasiswa anti korupsi. Bobby adalah mahasiswa yang sangat rajin,kami berdua menekuni bidang akuntansi, berkat kerajinannya itu, ia lulus terlebih dahulu dengan predikat cum laude, sedangkan aku lulus setahun setelahnya. Kemudian, Bobby merekomendasikanku untuk bekerj diperusahaan tempatnya bekerja.
"Hei Cesar, kita sudah sampai. Bengong terus kamu. Turun yuk, laper nih . " Kata Bobby sambil memperhatikan wajahku yang sudah mengantuk dan lelah sekali walaupun baru pukul tujuh malam.
Bobby membawku ketempat yang menurutku berlebihan untuk sekedar makan malam. Ada lampu kerlap-kerlip warna-warni disekelilingku,dan parahnya, Bobby memilihkan meja disamping kolam renang,rasanya aku ingin sekali menceburkannya kesana.
Bobby memesankanku tenderloin steak , menu yang sangat menggugah selera untuk makan malam ini.
"Ces, sadar gak sih tahun depan umur kita udah dua puluh lima?" Tanya Bobby padaku.
Aku terdiam sebentar. Booby dan aku hanya terpaut dua bulan, Bobby lahir dibulan Agustus, sedangkan aku dibulan Oktober.
"Ya, aku tahu. Aku rasa diusiaku yang hampir menginjak tahun perak ini, aku sudah mendapatkan semua yang kumau" Jawabku mantap, lalu Bobby tersenyum.
"Maksud aku bukn itu Ces, maksud aku, apa kamu tidak berpikiran untuk menikah? membuka hatimu lagi untuk lelaki dan mulai melupakan kenanganmu bersama Amri. Amri pasti bahagia diatas sana melihatmu ada yang menjaga" Tutur Bobby. Tanpa sadar, wajahku tertunduk dan pelupuk mataku basah oleh air mata.
Amri..
Komentar
Posting Komentar