Pertemuan singkat (bagian akhir)
"Laras, kamu percaya kan kamu punya otak ? Tapi apa kamu bisa melihat otakmu sendiri ? Kamu juga bisa melihat cara kerjanya? tidak kan ?. Analogi itu sama dengan analogi Tuhan, kita tidak bisa melihat-Nya, kita tidak bisa melihat cara kerja-Nya. Laras, aku yakin kamu juga tahu kalau letak keimanan kita bukan dipikiran kita, tapi ada dihati kita,Ras. Karena pikiran tidak bisa menangkap hal diluar dari pengamatan indra secara faktual." Jelasku dengan nada yang pelan, menghindari agar dirinya tidak menangis dan tersinggung. Laras kembali memandangku, dan kini ia memberi sebuah senyuman yang manis . Sambil mengusap air matanya, ia berkata lagi kepadaku.
"Kau benar, seharusnya aku memang tidak mempertanyakan keberadaan Tuhan. Aku hanya perlu menanyakan satu hal, mengapa Tuhan menghancurkan masa depanku seperti ini. Itu saja,Nesia !. Terimakasih kau bersedia mendengarkan ceritaku yang sangat tidak berguna. Aku akan protes sendiri ke Tuhan kita" Ucapnya keras. Lalu ia berdiri, mengeluarkan sebuah pistol dan mengacungkan ke pelipis kanannya sendiri.
"Laras, jangan lakukan itu ! percayalah kalau ini semua hanya ujian dari Tuhan. Aku yakin kamu bisa melewatinya dan mengulangnya menjadi manusia yang baru,Ras!" Teriakku semakin takut, seluruh orang yang berada didalm maupun diluar masjid berusaha menggagalkan rencana Laras, namun tak ada satupun yang berani mendekatinya.
" Jangan mendekat! ini urusanku dengan Tuhan ! . Nes, kalau memang Tuhan bisa menyelamatkanku dari peluru ini, aku percaya ia memang ada, tetapi kalau tidak, aku meragukan-Nya!" Teriaknya lantang, air mata kembali membasahi pipinya yang merah .
"Ras, itu bodoh ! kau jelas akan mati !. Percayalah bahwa semua deritamu akan berujung bahagia, jangan akhiri hidupmu seperti ini, Tuhan bisa murka !" Teriakku tak kalah keras, air mataku tumpah, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa dengan jelas merasakan kepedihan hati Laras.
"Oh ya? Jangan sok tahu,Nes ! Aku akan bertanya sendiri kepada-Nya ."
Kemudian suara tembakan terdengar, dan perempuan yang menjengkelkan beberapa jam yang lalu kini tergeletak tak bernyawa dipelataran masjid dengan lubang peluru di pelipis kanannya.
Semoga kamu menemukan jawabanmu,Ras.
"Kau benar, seharusnya aku memang tidak mempertanyakan keberadaan Tuhan. Aku hanya perlu menanyakan satu hal, mengapa Tuhan menghancurkan masa depanku seperti ini. Itu saja,Nesia !. Terimakasih kau bersedia mendengarkan ceritaku yang sangat tidak berguna. Aku akan protes sendiri ke Tuhan kita" Ucapnya keras. Lalu ia berdiri, mengeluarkan sebuah pistol dan mengacungkan ke pelipis kanannya sendiri.
"Laras, jangan lakukan itu ! percayalah kalau ini semua hanya ujian dari Tuhan. Aku yakin kamu bisa melewatinya dan mengulangnya menjadi manusia yang baru,Ras!" Teriakku semakin takut, seluruh orang yang berada didalm maupun diluar masjid berusaha menggagalkan rencana Laras, namun tak ada satupun yang berani mendekatinya.
" Jangan mendekat! ini urusanku dengan Tuhan ! . Nes, kalau memang Tuhan bisa menyelamatkanku dari peluru ini, aku percaya ia memang ada, tetapi kalau tidak, aku meragukan-Nya!" Teriaknya lantang, air mata kembali membasahi pipinya yang merah .
"Ras, itu bodoh ! kau jelas akan mati !. Percayalah bahwa semua deritamu akan berujung bahagia, jangan akhiri hidupmu seperti ini, Tuhan bisa murka !" Teriakku tak kalah keras, air mataku tumpah, aku tidak mengerti bagaimana aku bisa dengan jelas merasakan kepedihan hati Laras.
"Oh ya? Jangan sok tahu,Nes ! Aku akan bertanya sendiri kepada-Nya ."
Kemudian suara tembakan terdengar, dan perempuan yang menjengkelkan beberapa jam yang lalu kini tergeletak tak bernyawa dipelataran masjid dengan lubang peluru di pelipis kanannya.
Semoga kamu menemukan jawabanmu,Ras.
Komentar
Posting Komentar