Rumah untuk Ara (Bagian 1)
Semburat awan tipis melengkung dilangit sore. Oranye, warna yang indah ditengah langit Ibu Kota Jakarta menjadi hiburan tersendiri saat aku dan sahabatku sedang menyeruput secangkir latte dikedai kopi yang lumayan ramai dibilangan Sarinah-Thamrin. Aku dan Ara masih terdiam menikmati pemandangan sore di balkon kedai kopi ini,Ara termenung sambil sesekali memerhatikan busa latte-nya yang hampir surut kebawah. Selalu begini,saat kami bertemu,aku maupun Ara tidak memulai percakapan sampai aku sendiri yang memulainya,maka saat ini aku sengaja membiarkan Ara membuka topiknya .
Ara memandangku sesekali, lalu melayangkan pandangannya lagi ke cangkir yang sudah kosong.
"Daniel,bosen gak sih lo ketemu gue selalu dalam keadaan bermasalah?" Tanya Ara dengan tatapan yang tidak lepas menatap cangkir kosongnya.
"Yah Ra, kita sudah sahabatan selama tujuh tahun,sejak ospek kuliah gue udah tau kenapa lo sering banget dihukum senior. Masalah lo cuma satu ra" Ujarku membuat Ara penasaran.
"Apa?" Tanya Ara lantas mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Banyak masalah. itu masalah lo. Ibarat bawang merah, kalau dikupas kulitnya, pasti masih banyak lapisan-lapisan lainnya, nah itulah elo, lapisan-lapisan masalah lo gak pernah selesai. gak heran kalau lo selalu punya banyak masalah, rasanya aneh aja Ra, denger lo tanpa masalah hahaha" Jelasku membuat Ara cemberut .
"Daniel, gue gak tau harus gimana lagi" Ujar Ara putus asa, airmatanya mengalir sedikit demi sedikit tanpa mampu ia tahan. Begitulah Ara, terlalu rapuh,matanya tak kuasa memandangku,ia menutupi wajahnya dengan selembar tisu dan terus menangis.
"Masalah hendra lagi?" Tanyaku dengan helaan nafas berat.
"Hendra mau tunangan besok, gue masih belum bisa ngelupain dia. Menghilang dua bulan, terus mutusin gue,dan kemarin dia bilang dia mau tunangan lusa.Sakit,Niel." Ujar Ara lalu tanpa rasa bersalah menyedot ice cappucinno ku sampai habis .
Aku menatap perempuan didepanku lekat-lekat, tak pernah Ara serapuh dan sehancur ini, setengah tahun tidak memberiku kabar, dan sekarang ada dihadapanku dengan perasaan yang selalu sama,hancur.
Hendra adalah orang yang selalu memisahkan persahabatanku dengan Ara, dan anehnya Ara selalu menurut dan menjauhkanku. Inilah Ara, datang dan pergi seolah aku selalu ada untuknya.
"Kenapa ya Niel, gue diciptakan dari tulang rusuk laki-laki? gue selalu penasaran, tulang rusuk siapa yang melengkapi rangka tubuh gue? Kenapa gue harus diciptakan menjadi perempuan?. lemah, rapuh, cengeng. Enak jadi seperti lo, bebas, seneng,dan bisa dengan mudahnya memilih wanita yang lo mau." Ucap Ara kacau . pembicaraannya sudah mengarah ke pertanyaan-pertanyaan idiot yang malas untuk kujawab.
"Ra, dosa loh mempertanyakan hal yang diluar kuasa kita, itu sudah takdir . Bayangin deh, sebenarnya Tuhan sudah ngasih kita dua pilihan sebelum menjadi takdir kita yang sebenarnya . Lo juga sudah diberi pilihan melalui kejadian Hendra selingkuh waktu pertama kali itu. Pilihannya antara lanjutkan penderitaan lo atau mengakhiri penderitaan lo. Dan akhirnya apa yang lo pilih ? lo malah memilih untuk melanjutkan penderitaan lo dengan terus mempertahankan dia. Siapa lagi yang mau lo salahin? Tuhan gak pernah salah ra, ingat, dia memberi lo pilihan" Tuturku panjang lebar membuat Ara tersenyum meratapi nasibya, ia mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.
Ara memandangku sesekali, lalu melayangkan pandangannya lagi ke cangkir yang sudah kosong.
"Daniel,bosen gak sih lo ketemu gue selalu dalam keadaan bermasalah?" Tanya Ara dengan tatapan yang tidak lepas menatap cangkir kosongnya.
"Yah Ra, kita sudah sahabatan selama tujuh tahun,sejak ospek kuliah gue udah tau kenapa lo sering banget dihukum senior. Masalah lo cuma satu ra" Ujarku membuat Ara penasaran.
"Apa?" Tanya Ara lantas mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Banyak masalah. itu masalah lo. Ibarat bawang merah, kalau dikupas kulitnya, pasti masih banyak lapisan-lapisan lainnya, nah itulah elo, lapisan-lapisan masalah lo gak pernah selesai. gak heran kalau lo selalu punya banyak masalah, rasanya aneh aja Ra, denger lo tanpa masalah hahaha" Jelasku membuat Ara cemberut .
"Daniel, gue gak tau harus gimana lagi" Ujar Ara putus asa, airmatanya mengalir sedikit demi sedikit tanpa mampu ia tahan. Begitulah Ara, terlalu rapuh,matanya tak kuasa memandangku,ia menutupi wajahnya dengan selembar tisu dan terus menangis.
"Masalah hendra lagi?" Tanyaku dengan helaan nafas berat.
"Hendra mau tunangan besok, gue masih belum bisa ngelupain dia. Menghilang dua bulan, terus mutusin gue,dan kemarin dia bilang dia mau tunangan lusa.Sakit,Niel." Ujar Ara lalu tanpa rasa bersalah menyedot ice cappucinno ku sampai habis .
Aku menatap perempuan didepanku lekat-lekat, tak pernah Ara serapuh dan sehancur ini, setengah tahun tidak memberiku kabar, dan sekarang ada dihadapanku dengan perasaan yang selalu sama,hancur.
Hendra adalah orang yang selalu memisahkan persahabatanku dengan Ara, dan anehnya Ara selalu menurut dan menjauhkanku. Inilah Ara, datang dan pergi seolah aku selalu ada untuknya.
"Kenapa ya Niel, gue diciptakan dari tulang rusuk laki-laki? gue selalu penasaran, tulang rusuk siapa yang melengkapi rangka tubuh gue? Kenapa gue harus diciptakan menjadi perempuan?. lemah, rapuh, cengeng. Enak jadi seperti lo, bebas, seneng,dan bisa dengan mudahnya memilih wanita yang lo mau." Ucap Ara kacau . pembicaraannya sudah mengarah ke pertanyaan-pertanyaan idiot yang malas untuk kujawab.
"Ra, dosa loh mempertanyakan hal yang diluar kuasa kita, itu sudah takdir . Bayangin deh, sebenarnya Tuhan sudah ngasih kita dua pilihan sebelum menjadi takdir kita yang sebenarnya . Lo juga sudah diberi pilihan melalui kejadian Hendra selingkuh waktu pertama kali itu. Pilihannya antara lanjutkan penderitaan lo atau mengakhiri penderitaan lo. Dan akhirnya apa yang lo pilih ? lo malah memilih untuk melanjutkan penderitaan lo dengan terus mempertahankan dia. Siapa lagi yang mau lo salahin? Tuhan gak pernah salah ra, ingat, dia memberi lo pilihan" Tuturku panjang lebar membuat Ara tersenyum meratapi nasibya, ia mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.
Komentar
Posting Komentar