Pertemuan singkat (bagian 2)
Setiap tutur katanya selalu dibarengi dengan air mata. Aku hanya bisa menenangkannya tanpa mampu memberi solusi tentang ceritanya yang begitu rumit. Kucerna sedikit demi sedikit ceritanya, namun semakin kesini, semakin aku ingin juga mengeluarkan air mata.
Namanya Laras, anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya adalah seorang laki-laki yang sudah kerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi, hingga tinggallah ia bertiga dengan ibu dan ayahnya.
Laras adalah anak yang pintar, ia kuliah disini juga, dijurusan ilmu komputer dengan beasiswa prestasi penuh. Aku terkejut, terlintas dipikiranku ia adalah seorang yang jenius. Lalu ia juga taat pada agama, selalu menjalankan perintah-Nya. Namun, pada suatu titik tertentu dimana dibagian hidupnya ia meragukan keberadaan Tuhan. Hingga ia menceritakan bagian yang lebih banyak menguras air mata untuk diceritakan.
Keluarga Laras tinggal dilingkungan tempat prostitusi dan kelab malam illegal, Laras sudah sering meminta kepada ibunya untuk pindah kontrakan karena lingkungannya sangat rawan sekali. Namun, keluarga Laras bukanlah keluarga yang mudah untuk berpindah-pindah tempat tinggal, bukanlah keluarga yang mudah untuk mengabulkan permintaan anaknya.Namun, ibu Laras bekerja keras dengan menjadi penjual nasi uduk setiap pagi didepan kontrakannya.Sampai pada suatu malam, ayah Laras pulang kerumah dalam keadaan mabuk berat dan diseret oleh dua lelaki berbadan besar dan kekar. Mereka akan membakar rumah ini dan segala isinya apabila ayah Laras tidak melunasi hutang-hutangnya yang terlampau banyak.Laras dan Ibunya sangat ketakutan, ini bukan sekali dua kali ayahnya membuat ulah, barang-barang dirumah Laras juga habis digadaikan dimeja judi.
Dengan pikiran yang masih dipengaruhi alkohol, ayah Laras menarik Laras dan melemparkannya kearah dua lelaki itu sebagai pengganti hutang-hutangnya. Batin Laras terpukul, ia kecewa ayahnya sendiri menyerahkan dirinya seperti binatang, tidak berperikemanusiaan.
Kedua Lelaki itu kemudian menyerahkan Laras ke bos mereka yang meminjamkan uang kepada ayahnya. Sebagai gantinya, Laras harus menjadi PSK dan hasil ia "kerja" harus ia setorkan ke bos itu atau dengan ancaman keluarga Laras akan dibunuh tanpa sisa. Malam-malam yang Laras lalui seperti disayat-sayat pisau lalu dikucuri air jeruk nipis,perih,pedih,dan menyakitkan tanpa jeda.
Hingga didalam semua kekalutannya, Laras kabur dan berada disini, merambah masjid yang sudah jarang ia rambah sejak kejadian itu. Namun, aku tertegun diantara semua keraguannya, ia masih mengingat tuhan dan ingin menyembahnya walau dengan perasaan takut. Takut karena ia mengangap dirinya kotor.
"Aku percaya Tuhan itu ada. Tetapi mengapa ia tega membuatku seperti ini ? . Aku bukan hamba-Nya yang sombong,aku selalu mengerjakan perintah-Nya, dan menutup auratku. Tetapi lihat sekarang, Tuhan membiarkan auratku terbuka , membiarkan aku seperti ini. Apa Tuhan mendengarku dengan baik disini ? Apa ia masih menerima sujudku setelah ini? atau memang sebenarnya dia memang tak ada untukku ?"
Tutur Laras yang tangisnya kembali pecah . Aku mencoba menenangkan Laras kembali .
Namanya Laras, anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya adalah seorang laki-laki yang sudah kerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi, hingga tinggallah ia bertiga dengan ibu dan ayahnya.
Laras adalah anak yang pintar, ia kuliah disini juga, dijurusan ilmu komputer dengan beasiswa prestasi penuh. Aku terkejut, terlintas dipikiranku ia adalah seorang yang jenius. Lalu ia juga taat pada agama, selalu menjalankan perintah-Nya. Namun, pada suatu titik tertentu dimana dibagian hidupnya ia meragukan keberadaan Tuhan. Hingga ia menceritakan bagian yang lebih banyak menguras air mata untuk diceritakan.
Keluarga Laras tinggal dilingkungan tempat prostitusi dan kelab malam illegal, Laras sudah sering meminta kepada ibunya untuk pindah kontrakan karena lingkungannya sangat rawan sekali. Namun, keluarga Laras bukanlah keluarga yang mudah untuk berpindah-pindah tempat tinggal, bukanlah keluarga yang mudah untuk mengabulkan permintaan anaknya.Namun, ibu Laras bekerja keras dengan menjadi penjual nasi uduk setiap pagi didepan kontrakannya.Sampai pada suatu malam, ayah Laras pulang kerumah dalam keadaan mabuk berat dan diseret oleh dua lelaki berbadan besar dan kekar. Mereka akan membakar rumah ini dan segala isinya apabila ayah Laras tidak melunasi hutang-hutangnya yang terlampau banyak.Laras dan Ibunya sangat ketakutan, ini bukan sekali dua kali ayahnya membuat ulah, barang-barang dirumah Laras juga habis digadaikan dimeja judi.
Dengan pikiran yang masih dipengaruhi alkohol, ayah Laras menarik Laras dan melemparkannya kearah dua lelaki itu sebagai pengganti hutang-hutangnya. Batin Laras terpukul, ia kecewa ayahnya sendiri menyerahkan dirinya seperti binatang, tidak berperikemanusiaan.
Kedua Lelaki itu kemudian menyerahkan Laras ke bos mereka yang meminjamkan uang kepada ayahnya. Sebagai gantinya, Laras harus menjadi PSK dan hasil ia "kerja" harus ia setorkan ke bos itu atau dengan ancaman keluarga Laras akan dibunuh tanpa sisa. Malam-malam yang Laras lalui seperti disayat-sayat pisau lalu dikucuri air jeruk nipis,perih,pedih,dan menyakitkan tanpa jeda.
Hingga didalam semua kekalutannya, Laras kabur dan berada disini, merambah masjid yang sudah jarang ia rambah sejak kejadian itu. Namun, aku tertegun diantara semua keraguannya, ia masih mengingat tuhan dan ingin menyembahnya walau dengan perasaan takut. Takut karena ia mengangap dirinya kotor.
"Aku percaya Tuhan itu ada. Tetapi mengapa ia tega membuatku seperti ini ? . Aku bukan hamba-Nya yang sombong,aku selalu mengerjakan perintah-Nya, dan menutup auratku. Tetapi lihat sekarang, Tuhan membiarkan auratku terbuka , membiarkan aku seperti ini. Apa Tuhan mendengarku dengan baik disini ? Apa ia masih menerima sujudku setelah ini? atau memang sebenarnya dia memang tak ada untukku ?"
Tutur Laras yang tangisnya kembali pecah . Aku mencoba menenangkan Laras kembali .
Komentar
Posting Komentar