Di Barat

Angin menyapa rambut di pelipismu
bersama dengan lirik yang kau rapal pelan saat kita menuju ke Barat,
memandang aspal yang sehitam warna matamu.
Mata yang teduh menahan gerimis
menenangkan walau kadang sinis.

Kau mulai meracau dengan suara parau
barangkali hidup memang lucu dengan kebetulan yang sudah Ia rencanakan
Lalu kita sama-sama menertawakan takdir buruk
yang telanjur telah membuat kita terpuruk

Katamu,
Kita bepijak pada bumi
yang sudah bosan menasihati penghuninya dengan kejutan kecil,
Kau mulai takut mati, tapi saat itulah kau benar-benar hidup.

dari sekian puntung yang berkumpul di dasar asbak
ini terakhir yang kau isap dalam-dalam
dalam diam
dalam cemas yang kaucoba nikmati
dalam resah yang kadang memutus asa

Dan hari cepat larut saat ceritamu mulai runtut
tapi pulang menjadi harus karena ada hati yang wajib kau urus.

Maret, 2020.












Komentar

Postingan Populer