Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Di Barat

Angin menyapa rambut di pelipismu bersama dengan lirik yang kau rapal pelan saat kita menuju ke Barat, memandang aspal yang sehitam warna matamu. Mata yang teduh menahan gerimis menenangkan walau kadang sinis. Kau mulai meracau dengan suara parau barangkali hidup memang lucu dengan kebetulan yang sudah Ia rencanakan Lalu kita sama-sama menertawakan takdir buruk yang telanjur telah membuat kita terpuruk Katamu, Kita bepijak pada bumi yang sudah bosan menasihati penghuninya dengan kejutan kecil, Kau mulai takut mati, tapi saat itulah kau benar-benar hidup. dari sekian puntung yang berkumpul di dasar asbak ini terakhir yang kau isap dalam-dalam dalam diam dalam cemas yang kaucoba nikmati dalam resah yang kadang memutus asa Dan hari cepat larut saat ceritamu mulai runtut tapi pulang menjadi harus karena ada hati yang wajib kau urus. Maret, 2020.

Postingan Terbaru

Bersahabat dengan Keputusan

hanya sekadar

Terhempas dan Tak Putus

RESENSI NOVEL AROMA KARSA - DEE LESTARI: "Perburuan Jati Diri"

SEKAT

Karena Ini Sudah Pagi

Seberkas sisa mahasis(w)a

Terhapus

Pengantar tidur

Hujan sore-sore