Bersahabat dengan Keputusan


Selepas hari melelahkan, kadang membawaku ke keadaan yang kurang menyenangkan. Meski begitu, kukira semua orang tidak mau tahu atau aku yang terlampau memikirkan perasaan orang lain? Yasudah, toh hidup ini bukan hanya untuk sambatan lalu melupakan sambutan Ibu di rumah. Di usia yang akan mendekati seperempat abad, otakku dituntut untuk terus berpikir mengenai pengambilan keputusan yang terjadi di sekitar seremeh apapun; perihal pekerjaan, baju apa yang cocok dipakai, tabungan, jodoh (?), bubur diaduk atau tidak, dan lainnya yang kurasa cukup membuatku kewalahan. Di keluarga inti, hanya Ibu yang bisa kuminta pendapatnya. Jelas, karena anak Ibu hanya aku dan aku senang menjadi anak Ibu satu-satunya hehehe.

Tidak seperti anak tunggal kebanyakan yang saya kenal, kadang mereka dituntut untuk menjadi apa yang orang tua mereka inginkan. Namun, pada kasus ‘anak tunggal’ ini, aku sedikit berbeda. Sedari kecil, Ibu selalu membebaskanku perihal sekolah, ekstrakurikuler, belajar, sampai hobi. Malah ketika aku membutuhkan keputusan final, Ibu tetap menyerahkan kepadaku. Bisa dibilang, entah Ibu yang tidak mau ambil pusing atau memang sangat memercayakan semuanya kepadaku. Seperti pada saat aku ragu untuk tetap bekerja di creative agency atau pindah menjadi guru. Keputusan besar itu benar-benar tidak ada campur tangan Ibu sama sekali, seingatku Ibu hanya berkata, “Coba pikirkan baik-baik saat santai, biasanya kalau sedang kalut ga akan nemu jawabannya. Dua-duanya sama-sama profesi yang halal.”

Jawaban yang ‘tidak menjawab’ itu kemudian benar-benar memang yang kupikirkan baik-baik. Keresahanku saat itu, aku sedang nyaman-nyamannya bekerja di creative agency yang memang merupakan hal baru bagiku atau melanjutkan mengajar yang memang sesuai dengan kualifikasi lulusan. Bekerja di creative agency saat itu terasa nyaman karena teman-teman di sana tidak jauh berbeda umur, membahas sesuatu yang kekinian, kopi family ma*t sore-sore, dan pekerjaannya milenial banget. Aku sempat berpikir bisa berkembang di sana, jadi anak ahensi gaul hehe. Namun, lagi-lagi badai overthinking terus memaksaku untuk berpikir bahwa panggilan sekolah yang mengabaikanku selama kurang lebih tiga bulan ini pasti menunjukkan sesuatu.

Ketika keinginan untuk mengajar tidak lagi besar, pikiran-pikiran seperti, “Gue jadi socmed officer terus apa? Apa pengaruh gue ke orang lain? Berangkat jam 8 pagi kadang pulang jam 8 malam tapi setelah itu pun masih ada cicilan kerjaan yang harus dikerjain di rumah. Terus udah gitu?” Kemudian pemikiran lain seperti, “Terus gue pas kuliah capek-capek analisis morfem, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sastra dan lain-lain end up-nya cuma kepake jawabin kolom komentar brand, posting yang caption-nya juga udah dibuat, dan memasukkan data buat report.”
Saat sudah mulai yakin mengajar, ada lagi opini dari orang sekitar, “Udah enak di sini, ngapain ngajar? Emang gaji jadi guru honorer lebih besar?” Mendengar hal itu dilontarkan, rasanya aku flashback mendapatkan kesempatan kerja di sini dengan gaji yang menurutku cukup, jelas nanti tentu tidak akan sama nominalnya jika pindah menjadi guru honor sekolah. Ternyata, idealismeku dihadapkan dengan realita yang cukup pelik hahaha. Aku kembali bingung, tapi lagi-lagi aku harus mengambil keputusan.

Pada akhirnya, aku bermuara pada keputusan untuk mengajar dengan pertimbangan, rezeki sudah diatur dengan Yang Maha Merencanakan, bismillah saja. Namun, saat itu aku tak bisa lantas pindah lalu meninggalkan beberapa project yang campaign-nya sedang berjalan bersamaan. Aku bersyukur socmed manager­-ku yang baik banget mengizinkan untuk kerjanya remote dari sekolah dan standby jika ada perlu. Doaku seperti satu per satu terjawab.

Tantangan selanjutnya adalah freelancer ahensi yang kemudian jadi guru bahasa Indonesia 38 jam ngajar. Mudah, tidak? Jelas tidak mudah. Kadang di tengah-tengah pelajaran ada instruksi posting atau recap submission campaign. Mau tidak mau harus bisa bagi waktu dan sebisa-bisanya bagi waktu, keduanya ternyata bukan hal yang bisa dijalani bersama-sama tanpa harus ada yang dikorbankan. Selama sebulan-dua bulan aku merasa metode mengajar yang monoton karena setelah menjelaskan kemudian memberi tugas ke siswa, aku kembali duduk di balik meja dengan laptop di depanku; kembali menjadi anak ahensi. Beberapa bulan kemudian, project campaign  satu-satu selesai, akhirnya kuputuskan benar-benar resign dari kantor untuk mengajar.

Aku merasa cukup beruntung diberikan kesempatan dan dikenalkan oleh seniorku di kampus ke creative agency, di sana segala ilmu harus kukuasai dengan cepat; facebook, twitter, youtube analytics, kedisiplinan, dan profesionalitas. Seperti aku juga dikenalkan saat magang menjadi asisten produser di radio selama tiga bulan sebelum bekerja di creative agency, aku belajar dari produserku bahwa untuk menjadi ‘seseorang’ harus inisiatif, mencoba untuk menghilangkan rasa malu dan eksplorasi sebanyak-banyaknya ilmu. Pada titik ini, aku cukup banyak mendapatkan pembelajaran sebelum masuk ke dunia pendidikan. Ternyata di sekolah sampai saat ini pun aku masih harus terus belajar. Bertemu dengan berbagai macam anak dengan karakteristik yang berbeda, masalah yang beragam, dan keunikan masing-masing. Di sekolah, aku harus terus update materi, recall lagi, menyampaikan ke siswa dengan tepat dan tidak terlalu teoretis agar mudah dipahami. Hambatan? Ada, tapi apakah berhenti? Sejauh ini aku belum mau berhenti.

Tepat Maret 2019 ini dua tahun aku mengajar dan masih terus akan belajar. Jika pada posting saya 2017 lalu yang berjudul "Seberkas sisa mahasis(w)a" saya menulis seperti ini:


Rasa-rasanya benar. Aku sama sekali tidak menyesali keputusan yang kubuat hingga saat ini. Butuh waktu untuk membuatku benar-benar yakin bahwa menjadi guru adalah keputusan yang sama sekali tidak pernah saya sesali. Memang, dalam mengambil keputusan tidak semudah itu. Kadang ada beberapa hal yang harus dikorbankan dan perlu memikirkan dengan pikiran yang jernih.
Kadang kau juga tidak bisa memaksakan untuk memutuskan sesuatu dengan cepat tanpa pikir panjang, apa lagi untuk sesuatu yang esensial dalam jangka waktu yang lama. Sejatinya, keputusan juga selalu berteman dengan penyesalan. Jadi, jangan sampai menyesal untuk waktu yang lama atau memilih mengikhlaskan keputusan yang sudah telanjur dibuat karena kita tidak punya time stone  untuk memutar waktu, bukan? Hehehe.

Dalam hal ini, aku hanya perlu bersyukur diberi kesempatan belajar di berbagai tempat yang berbeda. Aku sangat-sangat bersyukur. 

Untuk Ibu, terima kasih atas kepercayaanmu denganku selama ini. Hingga akhirnya membawaku pada satu titik yang aku inginkan dan semoga selalu kuinginkan.
Untuk Aku, terima kasih untuk selalu bangun pagi ketika bantal-guling tak rela membiarkanmu pergi.
Lantas, keputusan apalagi yang harus kuputuskan saat ini?
Skip dulu deh,
Hahaha.


Komentar

Postingan Populer