Terhempas dan Tak Putus
Untuk
kau yang selalu mendengar, kini hanya perlu membaca beberapa hal:
Sudah terlalu sering saya mendengar
banyak orang membicarakan sesuatu hingga awal sampai akhir, tak luput dengan
detail-detail kecil yang sengaja dibuat-buat. Entah itu cerita senang atau
sedih, keduanya sama-sama memuakkan. Cerita-cerita yang mereka sebut cerita
bahagia dan tidak. Sepertinya semua orang memang memiliki bakat seperti itu,
walaupun kadang saya menemukan dalam diri saya juga pernah seperti itu. Saya
tahu ketika perasaan dalam diri ini berkata bahwa semua orang harus mengerti
apa yang saya rasakan, hingga saya seperti orang bodoh, tertawa dan menangis di
depan orang yang belum tentu mengenal siapa diri saya sebenarnya.
Banyak yang kemudian hilang dari
saya tak lama setelah saya menangis di depan teman yang saya kira bisa
menyimpan apa yang saya ceritakan. Kebanyakan dari mereka menghindari saya
karena saya lelaki cengeng yang menangis ketika seseorang meninggalkan saya
dengan cara yang menyakitkan. Kau tahu apa yang ada di pikiran saya saat
semuanya tak tergenggam lagi? Mati? Tidak. Saya hanya banyak melihat ketika
kemudian kebanyakan dari mereka sibuk dengan apa yang menjadi ‘kebahagiaan’
mereka masing-masing. Mereka tidak mau sibuk-sibuk menaruh telinga untuk
mendengar cerita pilu saya lagi atau bahkan sampai memberi saya semangat.
Kemudian saya melepas hal itu dengan
berusaha menemukan kebahagiaan di tempat lain, di hati yang lain. Semakin saya
berusaha mencari bahagia, entah mengapa saya tak pernah mengecapnya sedikitpun.
Ada saja hal-hal kecil yang membuat diri saya merasa asing. Pencarian bahagia
menurut definisi saya sepertinya berakhir di tengah jalan. Hingga saya hidup
sendiri untuk beberapa tahun dan menjalani rutinitas-rutinitas lainnya. Hidup
ini terdiri dari molekul-molekul sepi, kecil dan jelas tidak memiliki hawa
keberadaan. Hidup ini juga terdiri dari partikel-partikel bosan, ada dan
tidaknya tidak banyak berarti.
Saya rasa jelas, ketika kemudian tak ada lagi jalan
bagi saya untuk menemukan kebahagiaan, saya hanya perlu berhenti sejenak untuk
membiarkan kehidupan dan intuisi saya secara alami mengolah untuk menemukan
kebahagiaan. Sayangnya sampai saat ini definisi bahagia masih terlalu luas.
Seseorang dengan harta berlimpah bisa bahagia, tetapi bisa juga sengsara.
Seseorang dengan wajah menawan selalu dibahagiakan, namun tak sedikit yang
hanya dikecewakan. Seseorang dengan otak cemerlang, bahagia dengan prestasi
yang ia dapatkan, tak jarang hanya dimanfaatkan.
Jadi? Kau baru sadar bahwa kadar bahagia memang sulit
sekali diukur. Hingga saya menyadari sesuatu yang cukup membuat diri saya malu
sendiri. Jika di atas saya bilang kalau hidup ini terdiri atas molekul sepi dan
partikel bosan, keberadaan bahagia terselip di antara keduanya. Saat kau merasa
sepi dan bosan, kau hanya perlu menikmati keduanya hingga kemudian kau
mengetahui apa yang harus kau lakukan ketika rasa itu menyerang lagi. Saya
rasa, bahagia itu sederhana, ketika kau bisa selalu menikmati hal-hal kecil
yang menyenangkan di antara hidup yang sepi dan membosankan ini. Berkali-kali mungkin kau terhempas, namun pastikan asa tetap ada di sana. Tidak berlarian bahkan putus harapan. Merunduk sebentar mengambil serpihan kepingan dan berusaha berjalan lagi.
Tak
sadar kopi sudah terlalu dingin untuk diminum, lamunan ini memang adiktif.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja saya dengan pelan.
“Iyaa,
siapa itu?”
Kepala
mungil menyembul dari balik pintu yang susah payah ia dorong dengan tenaga kecilnya,
“Papa…
aku mau es krim.”
Komentar
Posting Komentar