RESENSI NOVEL AROMA KARSA - DEE LESTARI: "Perburuan Jati Diri"





Judul               :           Aroma Karsa
Penulis            :           Dee Lestari
Penerbit          :           Bentang Pustaka (Cetak) & Bookslife (Digital)
Tahun              :           2018
Cetakan           :           I (Pertama)
Tebal               :           xiv + 701 halaman; 20cm
Harga              :           Rp125.000,00

Aroma Karsa merupakan buku Ke-12 Dewi Lestari (Dee Lestari) yang memiliki genre sainsfiksi, genre ini bukan yang pertama kalinya hadir pada karya-karya Dee. Jejak sebelumnya ada pada enam seri novel Supernova yang merupakan dobrakan masif penggabungan antara sastra dan sainsfiksi. Kali ini Dee melahirkan Aroma Karsa tidak langsung ‘lahir’ dengan wujud novel yang bisa langsung ditemukan di toko buku, melainkan secara berangsur-angsur berupa cerita bersambung (cerbung) yang terdiri dari delapan belas bagian. Aroma Karsa versi cerbung dilahirkan melalui media digital (daring) yang bisa dinikmati per bagian setiap waktu yang telah ditentukan. Pengalaman membaca seperti ini baru pertama kali dicoba oleh Dee yang tentu saja diapresiasi para pembacanya.

Cerita ini dimulai dari seorang turunan Abdi Dalem Keraton yang bernama Raras Prayagung. Ia dipercaya oleh Eyang Putrinya; Janirah Prayagung untuk meneruskan tongkat estafet usaha keluarganya yang memproduksi jamu dan perawatan tubuh dan  menjadi perusahaan parfum paling terkenal, perusahaan itu bernama Kemara. Namun bukan hanya Kemara yang menjadi satu-satunya tongkat estafet tersebut, Janirah juga mewariskan Raras sebuah dongeng yang Ia yakini keberadaannya. Dongeng itu bernama Puspa Karsa. Janirah percaya dengan mencari Puspa Karsa, Ia mampu mengubah takdir dalam hidup keturunan orang yang memilikinya bahkan dunia berubah karena kesaktian tanaman tersebut. Bersama dengan Tanaya Suma; anak perempuannya yang Raras percayakan mengelola Kemara dan pencarian Puspa Karsa. Akan tetapi Puspa Karsa hanya bisa ditemukan dengan orang yang memiliki indra penciuman yang melampaui kata tajam.

Sementara Jati Wesi adalah seorang karyawan yang bekerja di toko parfum “Attarwalla” dan juga dijuluki “Si Hidung Tikus” karena kemampuannya membaui suatu objek bahkan keadaan. Ditemukan sejak bayi dan tinggal di TPA Bantar Gebang membuat kehidupan Jati amat tertempa menjadi seorang pemuda yang tahan banting. Bagi Jati, kehidupan di TPA Bantar Gebang dengan gunungan sampah yang kadang terdapat bangkai hewan atau mayat manusia bukan hanya berbau busuk, Ia mampu mengidentifikasi setiap bau yang berseliweran di hidungnya dengan amat spesifik. Untuk itu Pak Khalil; pemilik Attarwalla mempercayakan Jati sebagai salah satu aset peracik parfum. Namun keberanian Jati menduplikasi aroma salah satu produk Kemara membuatnya harus berurusan dengan perjanjian kontrak kerja seumur hidup bersama Raras Prayagung. Kontrak kerja itu juga yang akhirnya mengantarkan Jati bertemu Suma untuk sama-sama menemukan Puspa Karsa. Pencarian Puspa Karsa pada akhirnya merupakan usaha Jati dan Suma untuk menemukan jati dirinya masing-masing dan mengungkap teka-teki yang membungkus mereka.

Penokohan yang dibangun Dee terasa sangat apik, baik itu untuk tokoh utama ataupun pendamping. Dee menggambarkan seluruh tokoh seperti individu yang benar-benar hidup dan tercipta, maka tak jarang meskipun hanya dialog pendek pembaca pasti sudah tau siapa yang berbicara. Bahkan ada beberapa tokoh pendamping yang juga menjadi pelengkap dalam cerita digambarkan secara rinci satu bab sendiri. Penggambaran bab Janirah, Raras, Jati, Suma, Khalil, Ambrik, sampai Puspa Karsa membuat pembaca mengenal jauh lebih dalam daripada tokoh itu sendiri. Dee tidak hanya membelit pembaca dengan diksi, sekalipun Puspa Karsa yang berwujud tanaman terasa hidup dengan diksi yang digunakan sangat segar tanpa terpaksa mengada-ada. Penanaman karakter yang unik membuat tokoh-tokoh terasa jauh lebih hidup, sehingga pembaca juga mampu merasakan emosi dan empati yang dirasakan tokoh tersebut.

Kompleksitas alur yang dibangun Dee juga sangat mengejutkan, seperti ulang tahun setiap bulan; ada saja kejutan yang selalu dimunculkan setiap bab. Namun, benang merah sama sekali tidak ‘dipaksakan ada’ tetapi memang mengalir dengan sendirinya. Kemudian pembaca diajak bertanya-tanya hingga membuat hipotesis sendiri dan akhirnya terpuaskan dengan teka-teki yang satu per satu terungkap. Dilihat dari kesuksesan Dee menciptakan karakter Jati Wesi dan Tanaya Suma yang sama-sama tidak memiliki latar belakang keluarga yang jelas, Ia mampu membangun asumsi di setiap konflik yang dimunculkan. Hal itu membuat penemuan fakta-fakta tentang latar belakang Jati maupun Suma terasa berkejaran. Klimaks juga layaknya kembang api yang bersahut-sahutan tanpa memberikan jeda pada pembaca untuk bernapas sejenak. Bahkan sampai di epilog Dee masih memberikan kejutan tentang jati diri yang belum terungkap sepenuhnya.

Menelisik Aroma Karsa bukan hanya tersihir dan terbawa ke arus diksi paling dalam yang biasa kita nikmati jika membaca karya-karya Dee yang lain, namun selalu ada ilmu baru yang didapatkan oleh pembaca. Entah itu soal parfum, indra penciuman, mengenal aroma, tanaman anggrek hingga bahasa Jawa kuno zaman Majapahit mampu dijelaskan dengan rinci tanpa njelimet. Ini juga membuktikan Dee melakukan riset yang dalam tidak hanya pada kulit luar. Selepas menamatkan hingga halaman 701 Saya sebagai pembaca merasakan sensasi tak biasa, ada adrenalin yang cukup tinggi bergemuruh di dada. Seolah teka-teki yang sengaja digantung di akhir benar-benar menjadi kekhawatiran juga buat Saya. Juga dengan tamatnya membaca Aroma Karsa membuat Saya terkadang mencoba membaui suatu objek seperti yang dilakukan Jati Wesi dan Suma. Sampai tahap itu, Dee sudah sangat mampu menggerakkan emosi dan pikiran pembacanya.

Selanjutnya beralih ke sampul buku dirancang oleh illustrator favorit yaitu Hezky Kurniawan yang sudah Saya ikuti sepak terjangnya dari tahun 2016 melalui instagram. Ciri khas warna yang tidak terlalu mencolok membuat penyampaian makna ‘Puspa Karsa’ itu sendiri begitu dalam dengan font judul ‘Aroma Karsa’ yang pop up berwarna gradasi merah kecokelatan juga cocok dengan ilustrasinya.

Namun yang sedikit mengganjal hati adalah masih ditemukannya kesalahan pengetikan di beberapa bagian, meski tidak berpengaruh terhadap jalannya cerita, tetapi tetap mengurangi konsentrasi pembaca yang sejenak berpikir “Apakah memang bentuk bakunya seperti ini?” atau “Oh mungkin harusnya ini”. Akan tetapi jangan khawatir karena Dee sudah mengkonfirmasi revisiannya, sehingga untuk cetakan berikutnya lebih baik. 

Secara keseluruhan, kali ini sudah dapat dipastikan Aroma Karsa akan mahsyur seperti ‘kakak-kakak’ nya yang sudah terbit terlebih dahulu. Karya ini tidak hanya sekadar hiburan atau rekreasi dari kenyataan yang kadang menyebalkan, namun lebih dari itu. Ada nilai-nilai yang berusaha Dee sampaikan yaitu “pentingnya sebuah kejujuran” dan masih banyak nilai-nilai lainnya yang akan didapatkan melalui karakter tokoh atau pengungkapan peristiwa. Aroma Karsa sangat direkomendasikan untuk kamu yang bosan membaca cerita cinta pasangan kebanyakan. Dee membuktikan bahwa cinta tak melulu tentang semua pengorbanan romantis dan beraroma manis, tetapi juga sampai pengorbanan dengan aroma darah yang amis.



Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa rasakan akibatnya. -Aroma Karsa, Dee Lestari.

Komentar

  1. Oh, Hai! Terima kasih sudah membaca resensi saya :)
    Betul, setiap karya Dee punya kedalamannya sendiri-sendiri. Ini merupakan karya yang bikin saya gak mau segera menamatkannya tapi sekaligus penasaran.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer