Dia...

Apakah saya mengenalnya ? Saya tahu tentang perempuan yang ada di sebelah kiri ini, yang sakaw akan minuman manis. Namanya Tiara Nur Pangestika, tetapi saya dan semesta lebih suka memanggilnya 'Gotir', jangan tanya saya mengapa memanggilnya seperti itu, saya juga tidak tahu persis alasannya. Saya bertemu dengannya sewaktu menggigit bangku SMP, sekitar kelas.... delapan kalau tidak salah. Yang jelas, saat saya memiliki akun jejaring sosial bernama friendster, dan tahu kalau dia juga suka membaca novel. Sejak saat itu, saya mencoba berakrab ria dengannya dan meminjam sejumlah novel darinya. 

Dia termasuk orang yang populer di sekolah menengah pertama saya itu, jabatannya di OSIS membuat seantero sekolah tahu siapa dia, termasuk saya. Sayangnya, kami tidak terlalu akrab, mungkin karena beda kelas. Dan pada saat itu juga saya baru tahu kalau dia tinggal di dekat rumah saya, di rumah yang sewaktu kecil lebih saya anggap sebagai 'hutan buatan' karena banyak sekali tanaman di dalamnya. Gotir di SMP ? Saya belum begitu mengenalnya, hanya tahu dia punya banyak sekali novel, dan saya menawarkan tawaran konyol di friendster, bikin novel bareng.

Kemudian memasuki dunia putih abu-abu, saat saya sedang mengurus berkas-berkas untuk masuk ke SMA pilihan saya saat itu, ada perempuan dengan seragam putih-birunya dengan rambut ikal yang dikuncir satu, menghampiri saya, siapa dia ? Gotir, si kolektor novel , calon partner saya bikin novel, pikir saya saat itu. Masa Orientasi Siswa sudah kami lewati sebagai syarat masuk ke SMA, yang dalam bayangan saya 'masa-masa paling indah' tetapi serupa 'penjara' dengan gerbang tinggi yang hampir menyaingi tinggi gerbang masuk neraka.

Di hari terakhir Masa Orientasi, saya mencari-cari nama saya di pintu-pintu kelas, dan ternyata saya masuk kelas X-5 di ruang Ekonomi 1 pada saat itu. Saya memasuki kelas yang hampir penuh, sesak dengan suara cempreng Bobyn. Kursi hampir semua terisi, kemudian saya melihat kursi yang masih kosong di depan sebelah kiri dekat pintu, saya ingat persis letaknya. Saya duduk sendirian, tiba-tiba mata saya berbinar ketika mengetahui siapa orang yang masuk kelas dan mencari tempat duduk di balik kacamatanya. Dia... siapa lagi, calon partner menulis saya, Gotir. Dan kami secara resmi duduk bersama di siang hari itu, tidak ada upacara pengguntingan pita, hanya terjadi seperti itu, dengan lagu pengiring 'suara cempreng Bobyn' . 
 
Satu minggu-dua minggu, setahun, dua tahun, tiga tahun duduk bersamanya, ternyata dia bukan hanya sekedar calon partner menulis novel saya suatu hari nanti, tapi dia...
 
Dia masih tetap Gotir, perempuan yang selalu mau duduk di pojok dan ketiga dari depan, meskipun moving class, dia hanya ingin duduk di pojok, tidak mau di pinggir. Walaupun secara kasat mata dia sangat kutu buku (dan memang kenyataannya kutu buku), saya curiga dia pernah menelan kamus Inggris-Indonesia atau alfalink secara tidak sengaja pada saat balita, saya yakin. Mengapa ? di saat yang lain cuma mendapatkan nilai enam pada pelajaran bahasa Inggris, dia sendiri yang mendapat delapan, kemungkinan saingan terbesarnya dalam bahasa Inggris adalah Rahma, karena mereka berdua sepertinya memang benar-benar menelan kamus saat balita. Tetapi ada pelajaran yang lebih dia cintai daripada bahasa Inggris, yaitu Matematika, ya... Gotir MENCINTAI MATEMATIKA :)

Dia ternyata bukan hanya sekedar kutu buku yang hanya bisa memojok di kelas, telinganya selalu halal mendengar curahan hati saya, memberi nasihat yang kadang di luar pemikiran saya. Dia.. saya tahu dia ternyata. Dia sangat berapi-api kalau tentang teater, apapun yang berhubungan dengan seni, dia sangat mencintai itu selain kecintaannya dengan dunia tulis menulis. Maka, saat kelas sepuluh, dia menjadi ketua teater. Selain teater, dia juga mengikuti ekstrakurikuler Majalah Dinding atau yang kerennya Graphicma, setiap hari Jumat, membuat mading bersama di ruang bahasa Indonesia lantai dua, menulis bahan, mengarang zodiak, gosip bersama anak kelas duabelas, betapa saya sangat merindukan saat-saat seperti itu.

Dia adalah orang yang sangat terobsesi untuk datang pagi ke sekolah, kalau bisa sebelum para guru berjajar di depan gerbang, dia sudah duduk manis di kelas sambil sekadar memakan sarapannya, mendengarkan musik, atau menyalin PR matematika bersama anak-anak yang lain hahahaha (I really miss you !) . Saat jam istirahat, saya selalu turun ke koperasi siswa bersamanya, membeli jajanan, hal yang tidak boleh absen dari genggamannya saat naik ke atas adalah minuman manis, apa saja judulnya, yang penting maaaanis, dan sakaw di kelas sambil menggenggam minuman itu.

Dia memang bukan orang yang ramah pada saat pertemuan pertama atau kesan pertama kalian bertemu, kalian pasti sependapat dengan saya jika pernah mendapat tatapan sinis dari balik kacamatanya. Tetapi, semakin saya mengenalnya, saya justru sering mendapat seringaian iseng dari bibirnya dan kadang-kadang menggelayuti saya dengan manjanya. 

Dia... orang yang paling tulus yang saya kenal, dalam hal apapun. Dalam hal percintaannya, jangan tanya lagi seberapa sangat tulusnya dia mencintai orang yang dia cintai saat itu, setulus jantung memompa darah setiap detiknya. Dia orang yang suka menggambar apapun di bagian belakang bukunya, gambar abstrak, gambar yang memiliki detail kecil-kecil, gambar kata-kata yang membentuk melingkar seperti pusaran angin  dan dia lebih ikhlas membuat gambar itu berulang-ulang daripada harus mengerjakan soal limit matematika. 

Dia... mata hati telinga saya, dia tahu busuknya saya sampai ke akarnya. Dia orang yang menyelamatkan saya dari teguran dan sindiran guru ketika saya tidak sengaja untuk sesaat terbawa ke alam mimpi, dengan sigap tangannya menyikut saya dan membuat oksigen kembali menyeruak ke hidung dan otak saya. Saya sangat rindu makan mie di kantin bersamanya, rindu makan mie dua porsi dalam satu bungkus, hahahaha.

Saat ini, kita mencoba menjalani setapak masing-masing. Setapak yang dulu menjadi impian kita, yang sering kita diskusikan saat tidak ada guru di kelas. Saya tahu dengan pasti betapa sekarang ada yang kosong di hari-hari saya, bangku kuliah saya berdiri sendiri-sendiri, tidak berdempetan seperti SMA, saya juga tidak menemukan orang sakaw minuman manis lagi di kelas kuliah saya sekarang. 

Saya kira saya masih belum cukup mengenal dia, saya belum mau berpisah dengan dia bagaimanapun setapak kami menyasarkan kemana-mana, saya masih ingin mengenalnya, tertawa sampai pipi terasa kaku dan mata berair, bercerita sambil menerawang jauh ke dunia khayal ,saya masih ingin seperti itu.  Saya dan dia kelak tumbuh semakin dewasa, kadang jalan pikiran kami sudah berbeda, tapi saya harap saya tidak pernah kehilangan sosok Gotir, dengan seluruh retorika di dalam dirinya. Oh iya, saya masih mencalonkan dia sebagai partner menulis saya. Tunggu karya novel duet kami.





Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer