Perkamen Tahun Keempat

Sudah banyak butir pasir waktu yang turun ke bawah, hampir setengah dari kota ini kalau bisa dikumpulkan. Tahun keempat, sudah tahun keempat ternyata, dan saat ini terasa bertaut kepadanya lagi. Masalah penantian adalah waktu yang tidak dapat saya lingkari di kalender manapun, dia abstrak. Jujur sampai saat ini pun saya masih percaya tidak percaya, mengenal orang, menjalin kisah, pisah, lalu dipertemukan kembali, sungguh skenario Tuhan yang begitu ajaib. Orang yang masih sama, dia suka mengenakan topi di atas kepalanya, yang di atas bibirnya kini sudah dihiasi dengan kumis yang tipis. 

Entah tubuh saya dirasuki apa ketika perasaan ini sangat bahagia beberapa hari yang lalu, sore hari tepatnya, saat sedang menunggu bus di halte Trans Jakarta. Sebuah pesan singkat darinya masuk dan langsung memecah hening di hati, pandangan mata terbuka lebih lebar dari biasanya, dan jantung saya... menari begitu saja. Di dalam bus, berkali-kali saya pandangi isi pesan singkat itu sambil melihat macetnya jalan Jakarta, tetapi saat itu tidak terlihat seperti itu, lampu-lampu mobil dan motor di jalan raya itu seperti lampu disko, berputar-putar bersama isi pesan singkatnya. Saya bisa apa ? Ya saya hanya bisa senyum-senyum malu.

Tidak hanya berhenti sampai di jalan, ketika sudah sampai di rumah, pesan singkat itu pun masih saya pandangi, masih tersenyum sendiri dan saya mencatat isinya di kertas kecil lalu saya taruh di binder, itu kata-kata yang paling membuat saya semangat seharian, keesokan harinya. Kau tahu ? Saat ini saya seperti terlempar pada empat atau lima tahun yang lalu, saat kita masih bersama, saya benar-benar seperti itu, menunggumu dengan senyum yang tak berhenti terkembang. Sebenarnya sampai saat ini saya juga belum mengerti sepenuhnya apa isi pesan singkatmu. Sepertinya ilmu pragmatik saya tidak mampu memecahkan pragmatikmu, kau sungguh-sungguh membuat saya... :)

Lagi-lagi Tuhan sepertinya memang telah menggariskan ini, kau tahu ? Pesan singkatmu saya terima di tanggal 16 September, dimana tanggal itu adalah tanggal yang sangat saya benci empat tahun yang lalu, tanggal saat kau memutuskan hubungan kita, sama-sama di bulan September. Tapi entahlah, saya bingung sekali. Saya tidak berani bertanya lebih jauh mengenai isi pesan singkatmu, yang jelas saya bahagia saja. Saya memang tidak mau terlalu berpikir lebih jauh dan menerka-nerka kemungkinan terindah yang akan terjadi, saya takut kalau pesan singkat itu tidak berakhir indah. Lagi pula kita pernah gagal, bukan ? 

Lalu, jujur saja. Pertemuan kita beberapa minggu yang lalu di pintu September ini, kau sepertinya sangat menikmatinya. Kita sama-sama duduk berhadapan, memandang Jakarta dari balik kaca, kau suka duduk di balik kaca, bukan ? Saya tidak tahu apakah memang rasa dan rindu kita masih sama atau tidak, saya benar-benar tidak tahu dan tidak mau menerka. Yang jelas, sepertinya hari itu kita bahagia, membicarakan apapun yang kita tahu. 

Perkamen di tahun keempat, saya isi dengan kedatanganmu kembali ke bilik di dasar hati saya, entah ini rasa apa, saya tidak tahu, saya hanya merasa bahagia sebagaimana kau merasakan kenyamanan hidup saat berinteraksi dengan saya. Biarkan perasaan ini tak bernama, biarkan perkamen di tahun keempat ini tidak memiliki judul, biarkan saja. Sebut saja perkamen tahun keempat, itu sudah cukup menggambarkan semuanya, semua rasa yang saya rasakan meski saya tidak tahu apa namanya. 

#NowPlaying Maliq & D'essential's - Untitled

Komentar

Postingan Populer