Cerita

Aku tidak sedang menggenggam bunga dari siapapun ketika kemudian terlintas di benakku untuk merindumu. Bercengkrama dengan semilir angin dan tetes hujan selepas Maghrib menjadi kegiatan paling menyenangkan yang bisa aku lakukan saat ini, daripada memikirkan yang tidak memikirkan, kau bingung ? sama. Jangan pernah sekalipun melempar senyum kepadaku, meski hanya di dalam mimpiku, berusahalah kau menjadi orang lain, yang sangat asing. Kau tahu ? Aku sudah ribuan kali mencoba menyapu remah-remah rindu ini, tetapi semakin aku mencoba menghapusnya, semakin jelas remahan itu melekat di dasar hati ini. Heran akan penantian, aku termangu sendiri di sudut jendela yang dulu tempatku memandang bulan sambil berbicara denganmu lewat kabel telepon. Tapi kini ? aku malu pada bulan, dia menertawaiku dengan lebarnya, matanya melirik-lirik mencari seulas senyum saja di bibirku, sayangnya, tidak ada lagi.

Kita pernah punya cerita, hampir meniup lilin angka tiga, dalam sekali lubang yang kau gali untuk menanam sesuatu yang kau namakan cinta. Tapi kini aku tahu kalau kau menyiapkan lubang itu untuk mengubur diriku dan segala perasaan bodohku, semuanya. 

Aku bosan dengan cerita, cerita cinta apalagi !


Komentar

Postingan Populer