Supernova : Kesatria, Putri & Bintang Jatuh

 

Supernova : Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Mulanya, tidak pernah terbersit sekalipun di benak saya membaca novel ini. Dilihat dari sampulnya saja hitam, pasti cerita horor, pikir saya saat masih SMA dan sedang mengunjungi toko buku sepulang sekolah. Novel itu tidak pernah saya sentuh sekalipun, lagipula saya juga tidak terlalu tahu dengan penulisnya, Dee, Dewi Lestari.

Keadaan berbalik ketika beberapa bulan yang lalu, saya sudah menduduki bangku kuliah tingkat dua, di tengah hari yang bosan menunggu dosen, saya melihat teman saya, lelaki dari Bima, namanya Ardi, sedang membaca novel itu. Lantas saya meminjam untuk sekedar dilihat-lihat, dibolak-balik halamannya, membaca selembar-dua lembar, dan akhirnya dengan keajaiban semesta, saya memboikot novel itu, saya tidak peduli ekspresi Ardi saat itu, yang saya pikirkan adalah.. novel ini ajaib.


Supernova : Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh termasuk novel fiksi terberat yang pernah saya baca, genrenya fiksi-ilmiah. Jujur, pertama kali saya membacanya, saya harus melakukan pengulangan beberapa kali karena banyak istilah asing yang tidak saya pahami, dan saya harus memahaminya dari catatan kaki. Namun, fiksi-ilmiah tadi dikemas dengan alur yang apik, sangat apik. Sampai saat ini jelas saya masih salut dengan Dee, saya .. speechless dengan pikiran-pikiran Dee, yang tidak tahu kenapa bisa menghipnotis saya melalui tulisannya.

Novel ini berkisah tentang pasangan homoseksual Dimas dan Reuben yang dipertemukan di Washington D.C ketika mereka sama-sama sedang kuliah di luar negeri. Suatu malam di malam 'badai' serotonin,  pikiran mereka melayang dan sepakat berikrar bahwa sepuluh tahun yang akan datang, mereka harus menghasilkan suatu karya, sebuah masterpiece. Sepuluh tahun berlalu dengan begitu cepat, di Indonesia, mereka masih mengingat ikrar mereka di malam badai seretonin . Dimas mengusulkan membuat roman yang terinspirasi dari kisah yang sering didongengi oleh neneknya, dongeng "Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh" . Mereka sangat menghayati setiap kata yang mereka tulis, kata bermagis.

Sementara di kehidupan lain, Ferre dan Rana terjebak cinta yang terlarang. Ferre adalah eksekutif muda yang sukses dan sangat terobesi dengan sosok seorang Putri di negeri dongeng.  Sementara Rana adalah wanita karier yang kemudian menikah dengan pengusaha kaya, namun tidak bahagia, hampa. Mereka dipertemukan oleh takdir saat Rana meliput Ferre sebagai salah satu bahan untuk majalahnya. Melalui wawancara itu, Ferre melihat sosok Putri di diri Rana, dan begitu saja terjadi tarik-menarik antara dua kutub, mereka jatuh cinta. Begitu saja Kesatria jatuh cinta pada sang Putri.

Tak berhenti sampai di situ, masih di langit Jakarta, kehidupan seorang Diva, seorang wanita penghibur kelas kakap yang memiliki jutaan ide brilian dalam kepalanya. Diva yang terlihat sangat menawan di mata lelaki, yang perjamnya dibandrol dengan ribuan dollar. Seketika begitu saja dia datang sebagai kilatan cahaya yang cepat, sangat cepat, sesosok bintang jatuh di langit Jakarta.

Setelah anda membaca sinopsis dan beberapa pengenalan cerita, pasti anda berpikir bahwa Ferre, Rana, dan Diva adalah tokoh buatan Dimas dan Reuben, kalian terkecoh. Mulanya saya juga berpikir seperti itu, tetapi ternyata tidak, mereka memiliki porsi masing-masing di kehidupannya. Saya tidak akan membocorkan seluruh ceritanya di sini, saya ingin anda membacanya sendiri, lalu diskusikan dengan saya. Jujur, sampai saat ini saya tidak memiliki teman diskusi untuk membahas Supernova, saya sangat membutuhkan teman diskusi.

Dan satu lagi, Dee membuat tokoh, seorang cyber avatar, yang menghubungkan seluruh benang merah dan seluruh tokoh di rangkaian Supernova yang lain. Seorang Cyber Avatar, Supernova. 

Sampai saat ini sepertinya tidak cukup membaca Supernova : Kesatria, Putri, Bintang Jatuh hanya sekali dua kali, terus terang saya ingin terus membacanya, seperti ada kekuatan yang tersimpan di dalam novel itu. Kekuatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, sungguh. Seseorang pernah bertanya kepada saya "Apa sih isi Supernova yang pertama itu ?" banyak sekali kata-kata yang ingin saya keluarkan di pikiran saya, tapi entah mengapa kata-kata itu mengambang-ngambang di pikiran saya, terus mengambang sampai saya menikmatinya sendiri, tidak bisa menceritakan kepada orang lain sedetail yang saya baca, seolah pikiran ini tidak ingin membaginya dengan siapapun.

Satu hal yang saya dapatkan dari novel ini, bahwa  di semesta ini kita tidak sendiri, hidup bukan hanya sekedar mengambil nafas dan membuangnya kembali, tetapi hidup adalah sebuah pencarian tentang terus bertanya siapa kita sebenarnya, sampai menemukan jawaban yang pasti, siapa kita dan apa yang bisa kita lakukan terhadap orang banyak. Novel ini termasuk salah satu novel yang paling menginspirasi saya. 

Untukmu, Supernova, Cyber Avatarku , tunggu aku.


Komentar

Postingan Populer