Darah
Dia masih menggenggam mawar putih yang hendak ia berikan ke wanita pujaan hatinya, membayangkan mata coklatnya kemudian berbinar, bibirnya yang semerah delima mengembang, dan tawanya yang seriang parkit senang setelah menerima bunga itu, tetapi itu hanya khayalannya. Sengaja Ia menyembunyikan mawar itu dibalik jaket biru lusuhnya yang tak pernah ia ganti sejak SMA, jaket itu adalah jaket keberuntungannya, dan ia mengharapkan keberuntungan untuk hari ini. Gadis itu kemudian keluar dari kelasnya, dengan rambut yang tergerai, tidak terlalu panjang, hanya sepundak, tetapi kibasannya cukup untuk membuat lelaki seisi kampus menoleh kearahnya ketika berjalan. Hal itu yang menjadikan lelaki ini begitu mencintai wanita mungil yang bernama Mia.
"Ada apa? sudah kubilang berkali-kali jangan pernah menemuiku lagi." Yang digertak hanya diam, namun tangan kanannya masih terselip dibalik jaket dengan mawar putih tergenggam erat sampai ia lupa duri mawar itu makin lama, makin menusuk telapak tangannya.
"Hanya ingin berbicara dengamu" Cukup sederhana permintaannya, Mia tetap menghindar darinya, hingga ia berhenti di sebuah bangku panjang, dan duduk diatasnya.
"Kau freak" Ucap Mia datar namaun sangat pedas, sepedas jalapeno.
"Yang kedua, kau tidak sederajat denganku."
"Yang ketiga, kau lihat pernyataanku yang kedua"
Dia menunduk, tatapannya hanya bisa memandang dan menatap sepatu Mia yang harganya jutaan rupiah, sebuah harga yang bisa menghidupi keluarganya berbulan-bulan.
"Aku mencintaimu" Tuturnya, lagi-lagi badannya gemetar. Mia hanya membuang muka, pernyataan biasa yang sering ia terima setiap hari.
"Kita memang berbeda. Ya, aku gila mencintai wanita yang sangat sombong sepertimu. Merah yang mengalir di dalam nadimu boleh saja lebih manis daripada merah yang mengalir di dalam nadiku. Merah yang mengalir di nadimu boleh saja lebih banyak dari merah yang mengalir di nadiku, yang setiap malam selalu kubagi dengan para nyamuk yang kelaparan. Tapi sungguh Mia, merah yang mengalir di dalam nadimu tidak sebersih daripada yang mengalir di nadiku, ataupun nadi-nadi jutaan orang yang pernah kau maki dan kau hina." Kali ini air matanya keluar, mengalir begitu saja turun ke rahang yang tegas.
"Cukup ! Pergi kau ! Manusia freak ! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mencintaimu, pria miskin!"
Hardik Mia tanpa ampun.
"Hanya karena orang tuamu tidur di spring bed dan bantal yang paling mahal di negeri ini, hanya karena makanan yang kau makan lebih banyak daripada yang keluargaku makan, hanya karena rumahmu yang lebih besar daripada gedung kampus ini, hanya karena semua yang kau punya lebih banyak daripada yang kupunya. Sungguh merah yang ada di dalam nadimu sama saja denganku, wanita sombong. Seharusnya kau malu, karena apa yang mengalir di dalam nadimu sama dengan milyaran orang di dunia ini. Kau boleh membanggakan apapun milikmu, tetapi jangan pernah sekalipun kau banggakan apa yang mengalir di dalam nadimu." Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia pendam di dalam jaket birunya, mawar putih itu sudah berubah menjadi merah, tangkainya lemah terlumuri oleh cairan merah yang kalian sebut darah.
"Untukmu. Seperti inilah yang mengalir di dalam nadimu. Sama dengan punyaku. Meskipun para pejabat dan kelaurgamu berdarah biru, pernahkah kau berpikir kalau mereka membohongimu ?. Kau bodoh, yang mengalir di dalan nadimu, seperti ini. Dan di neraka nanti, Tuhan tak akan melihat warna yang mengalir dalam nadimu. Sombonglah selagi kau mampu, Mia. Selama yang mengalir di dalam nadimu masih mau untuk beredar di seluruh tubuhmu. "
Tangan Mia kemudian terulur juga untuk mengambil mawar yang sudah layu dan berlumuran darah. Kemudian ia membuangnya ke tanah.
"Merah yang mengalir dalam nadimu, sudah sepatutnya terus berada dibawah, jangan pernah sekalipun mencoba untuk merangkak keatas, meski itu hanya sejengkal." Mia berjalan meninggalkannya yang kini hanya bisa merintih menahan sakit yang ada di telapak tangan dan juga hatinya. Dia tersenyum sinis, ternyata Tuhan tidak mengizinkannya untuk bermain di lakon hidup yang sama. Hanya karena yang mengalir di dalam nadinya, yang mengalir di dalam nadinya, yang mengalir di dalam nadinya. Tuhan mengalirkan sesuatu yang mengalir di dalam nadinya, dan nadi dia juga, sama-sama berwarna merah, tetapi tidak diizinkan menjadi pemain di lakon yang sama. Andai merah dia seperti yang mengalir di dalam nadi Tuhan.
Komentar
Posting Komentar