Sapaan Embun
Katanya angin mampu membawa segar, juga udara pagi yang kuputuskan untuk menerpa tubuhku yang selalu terbiasa dengan sapaan polusi di tengah kota. Tetapi pagi ini berbeda, meskipun masih di Jakarta. Langkah berlari-lari kecil, mencoba mengikuti alunan musik yang sedang kudengar. Rupanya langkahku membuat burung gereja di depanku terbirit-birit terbang, Jakarta di Minggu pagi, Taman Suropati. Angin masih terus meniup-niup tengkukku, seperti tidak bosan bercanda dengan pendatang baru taman ini. Banyak orang yang sedang beraktivitas sama denganku, berlari-lari kecil atau hanya sekadar pemanasan ringan, tidak masalah jika membuat tubuh menjadi bugar. Kasus kesehatan akhir-akhir ini banyak sekali yang diakibatkan oleh kecerobohan kita dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, yang katanya bikin cepat mati.
Di bawah pohon angsana besar aku duduk, sambil meneguk air mineral yang kubawa dari rumah, olahraga pagi bagiku bukanlah hal mudah. Senin sampai Jumat, waktuku tersita dengan rapat dan pertemuan-pertemuan penting dengan calon kolega dan klien dari berbagai propinsi, kadang negara lain. Hidup yang bergulir selama dua puluh empat jam kurasa sangat singkat, atau memang aku yang serakah ? entahlah. Di usia menjelang dua puluh lima tahun, rasanya segalanya telah bisa kudapatkan berkat kerajinanku memupuk benih di kantor, menjadi jarum di mesin waktu,aku sudah mapan.Tapi ternyata, tetap saja. aku tidak memiliki semuanya.
Satu minggu yang lalu. Tadinya kupikir semua berjalan dengan normal,seperti biasanya, bangun tidur-mandi-ke kantor-pulang ke rumah-tidur lagi dan berjalan seperti itu lagi esok harinya.Ternyata tidak, karena aku menyisipkan kegiatan setelah bangun tidur, sarapan bubur. Sebelumnya aku tidak pernah tahu ada penjual bubur keliling yang enak dan selalu lewat di kompleks rumahku, dan kupikir sudah lama sekali aku tidak makan bubur ayam. Dengan langkah malas mengantongi uang selembar dua puluh ribuan lecek yang tak sengaja kutemukan di bawah papan keyboard komputerku.
Aku meneliti segala macam perlengkapan bubur dibalik kaca gerobak, ada suwiran ayam kecil-kecil, sate usus, sate ati ayam, sate telur puyuh, kerupuk, cakue, dan botol-botol bumbu yang sepertinya gurih. Penjual bubur itu meneliti diriku, manusia macam apa yang keluar rumah hanya dengan kemeja yang dua kancingnya sudah terbuka dan dasi yang sudah dikendurkan serta celana pendek ? mendadak aku merasa bodoh sendiri. Aku memesan bubur dengan tiga sate ati dan dua sate telur puyuh, lapar mata. Si eksekutif muda kelaparan yang sedang duduk di bangku plastik sambil menunggu bubur ayam ekstra satenya.
"Bang, buburnya satu ya, jangan pakai kacang sama seledri"
"Siap, Neng !"
Tukang bubur genit, giliran sama cewek pakai senyum. Abang tukang bubur menyuguhkan bubur ayam ekstra kepadaku, aku bisa apa lagi ? kalap.
"Gak makan berapa bulan, Mas ?" Kukira pertanyaan ini bukan untukku, hingga colekan jari lentiknya yang dingin mampir ke lengan kananku, membuatku menghentikan aktivitas makanku sejenak. Aku menatap wanita berambut sebahu itu sejenak, matanya cokelat muda, lesung pipinya terkembang ketika ia tersenyum kutatap. Aku membalas senyumnya.
"eh ? makan kok bulan kemarin." Jawaban terbodohku dengan aroma nafas bubur ayam, menjijikan.
Rupanya wanita di sampingku ini memerhatikanku sejak tukang bubur itu memberikan mangkuk berisi bubur dengan ekstra sate penuh di atas mangkukku. Aku melirik ke mangkuk bubur yang ia pegang, porsi normal. Lalu menjadi masalahkah buatnya ketika aku makan sebanyak ini ? aku berusaha mengacuhkannya. Dia asyik memakan buburnya, tertata rapi, tidak diaduk semuanya seperti yang kulakukan, aku melihat mangkukku, mendadak bubur ini lebih mirip seperti muntahan kucing, aku jujur. Dan, aku melontarkan pertanyaan yang konyol.
"Makan buburnya gak diaduk ? nanti bumbunya gak merata loh rasanya." Sejenak ekor mata wanita itu menatap mangkukku, benar saja, ia terlihat jijik.
"Tidak, aku lebih suka begini" Jawabnya sambil terus menyendok buburnya, pelan-pelan, dan memakannya.
"Lebih tertata, teratur, makannya juga senang." tambahnya.
Kemudian kami berdua sama-sama tenggelam dengan bubur ayam masing-masing, dia habis terlebih dahulu, sedangkan aku masih sangsi, untuk tetap meneruskan memakan bubur yang terlihat seperti muntahan kucing ini atau tidak, padahal masih setengah mangkuk lagi.
"Kok gak dihabiskan ?" Tanyanya lagi sambil meneguk air minumnya.
"Sudah kenyang" Jawabku singkat, sudah muak tepatnya.
"Lain kali makan buburnya jangan diaduk. Kerupuk menjadi hilang fungsi, seharusnya dia membuat suara renyah di antara keheningan bubur yang lembek. Bubur kamu juga dirusak oleh rasa yang kuat, sambal. Padahal dalam memakan bubur, kamu punya hak untuk merasakan pedas atau tidak pedas di setiap sendoknya. Dan, sate-sate itu ... bukti keserakahan kamu. Kalau saja kamu hanya memilih satu sate entah sate ayam atau sate telur puyuh, karena mereka sebenarnya sepasang, jadi cepat bikin kenyang. Seharusnya kamu bisa menghabiskan buburmu. Sayangnya, kamu sudah terlalu kenyang dengan ekstra satemu. Dari makan bubur saja, kepribadianmu sudah bisa kutebak." Tutur wanita itu, aku tercenung. Skak mat. Dia punya kartu As. Aku menatap matanya, sarapan bubur yang paling filosofis dalam hidupku.
"Kenalkan, aku Fajar. Siapa namamu ?" Tiba-tiba tangan kananku sudah terjulur di hadapannya.
"Embun" Jawabnya tegas. Pagi ini Embun menyapaku, dengan segarnya.
Karena dia, setiap hari sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk sarapan bubur dengannya, setiap pagi. Dan di Minggu pagi ini, kami berencana bertemu, di taman ini. Pohon Angsana ini sepertinya berat disandari olehku, hingga aku ketiduran, dia belum datang. Embun belum juga datang . Sudah terlalu siang dan terik, sudah pukul sebelas. Aku mencoba menunggunya satu jam lagi. Kesabaranku habis, mungkin dia lupa dengan pertemuan ini. Langkah berat menuju kompleks perumahanku, melewati trotoar yang biasa tukang bubur ayam itu mangkal, dan sepertinya senyum Embun terus menerus terkembang di sepanjang jalan.
Pagi ini sudah kuputuskan untuk menemui Embun di tukang bubur seperti biasanya, aku sudah memesan pesananku, bubur porsi normal dengan satu sate ati ayam. Dengan perasaan bimbang dan getir aku memakan bubur ayam ini, seperti ada yang mengganjal, aku menghentikan makanku.
"Kok bengong, Mas ?" tanya Mang Supri, penjual bubur. Ya, kami sudah kenalan.
"Neng Embun gausah ditungguin Mas." Deg !. Tiba-tiba kacamataku seperti mau jatuh dari wajahku.
"Dia nitip ini kemarin buat Mas. Katanya kalau Mas makan bubur di sini lagi, saya disuruh ngasih Mas, ini. Sate telur puyuh." Mang Supri memberi sate telur puyuh itu ke atas mangkukku yang sudah setengah, ia sandingkan dengan sate ati pilihanku. Sepasang.
"Embun memangnya kemana, Mang ?" tanyaku dengan diam yang lebih lama.
Namun, jawaban dari pertanyaanku hanyalah gelengan kepala Mang Supri.
Embun, aku mengenalmu di pagi pertamaku, dan sekarang kau menghilang di pagi terakhirmu. Embun yang dingin. Embun, apa semua embun selalu muncul di pagi hari dan menghilang setelah fajar terbit ?
Aku meneliti segala macam perlengkapan bubur dibalik kaca gerobak, ada suwiran ayam kecil-kecil, sate usus, sate ati ayam, sate telur puyuh, kerupuk, cakue, dan botol-botol bumbu yang sepertinya gurih. Penjual bubur itu meneliti diriku, manusia macam apa yang keluar rumah hanya dengan kemeja yang dua kancingnya sudah terbuka dan dasi yang sudah dikendurkan serta celana pendek ? mendadak aku merasa bodoh sendiri. Aku memesan bubur dengan tiga sate ati dan dua sate telur puyuh, lapar mata. Si eksekutif muda kelaparan yang sedang duduk di bangku plastik sambil menunggu bubur ayam ekstra satenya.
"Bang, buburnya satu ya, jangan pakai kacang sama seledri"
"Siap, Neng !"
Tukang bubur genit, giliran sama cewek pakai senyum. Abang tukang bubur menyuguhkan bubur ayam ekstra kepadaku, aku bisa apa lagi ? kalap.
"Gak makan berapa bulan, Mas ?" Kukira pertanyaan ini bukan untukku, hingga colekan jari lentiknya yang dingin mampir ke lengan kananku, membuatku menghentikan aktivitas makanku sejenak. Aku menatap wanita berambut sebahu itu sejenak, matanya cokelat muda, lesung pipinya terkembang ketika ia tersenyum kutatap. Aku membalas senyumnya.
"eh ? makan kok bulan kemarin." Jawaban terbodohku dengan aroma nafas bubur ayam, menjijikan.
Rupanya wanita di sampingku ini memerhatikanku sejak tukang bubur itu memberikan mangkuk berisi bubur dengan ekstra sate penuh di atas mangkukku. Aku melirik ke mangkuk bubur yang ia pegang, porsi normal. Lalu menjadi masalahkah buatnya ketika aku makan sebanyak ini ? aku berusaha mengacuhkannya. Dia asyik memakan buburnya, tertata rapi, tidak diaduk semuanya seperti yang kulakukan, aku melihat mangkukku, mendadak bubur ini lebih mirip seperti muntahan kucing, aku jujur. Dan, aku melontarkan pertanyaan yang konyol.
"Makan buburnya gak diaduk ? nanti bumbunya gak merata loh rasanya." Sejenak ekor mata wanita itu menatap mangkukku, benar saja, ia terlihat jijik.
"Tidak, aku lebih suka begini" Jawabnya sambil terus menyendok buburnya, pelan-pelan, dan memakannya.
"Lebih tertata, teratur, makannya juga senang." tambahnya.
Kemudian kami berdua sama-sama tenggelam dengan bubur ayam masing-masing, dia habis terlebih dahulu, sedangkan aku masih sangsi, untuk tetap meneruskan memakan bubur yang terlihat seperti muntahan kucing ini atau tidak, padahal masih setengah mangkuk lagi.
"Kok gak dihabiskan ?" Tanyanya lagi sambil meneguk air minumnya.
"Sudah kenyang" Jawabku singkat, sudah muak tepatnya.
"Lain kali makan buburnya jangan diaduk. Kerupuk menjadi hilang fungsi, seharusnya dia membuat suara renyah di antara keheningan bubur yang lembek. Bubur kamu juga dirusak oleh rasa yang kuat, sambal. Padahal dalam memakan bubur, kamu punya hak untuk merasakan pedas atau tidak pedas di setiap sendoknya. Dan, sate-sate itu ... bukti keserakahan kamu. Kalau saja kamu hanya memilih satu sate entah sate ayam atau sate telur puyuh, karena mereka sebenarnya sepasang, jadi cepat bikin kenyang. Seharusnya kamu bisa menghabiskan buburmu. Sayangnya, kamu sudah terlalu kenyang dengan ekstra satemu. Dari makan bubur saja, kepribadianmu sudah bisa kutebak." Tutur wanita itu, aku tercenung. Skak mat. Dia punya kartu As. Aku menatap matanya, sarapan bubur yang paling filosofis dalam hidupku.
"Kenalkan, aku Fajar. Siapa namamu ?" Tiba-tiba tangan kananku sudah terjulur di hadapannya.
"Embun" Jawabnya tegas. Pagi ini Embun menyapaku, dengan segarnya.
Karena dia, setiap hari sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan diri untuk sarapan bubur dengannya, setiap pagi. Dan di Minggu pagi ini, kami berencana bertemu, di taman ini. Pohon Angsana ini sepertinya berat disandari olehku, hingga aku ketiduran, dia belum datang. Embun belum juga datang . Sudah terlalu siang dan terik, sudah pukul sebelas. Aku mencoba menunggunya satu jam lagi. Kesabaranku habis, mungkin dia lupa dengan pertemuan ini. Langkah berat menuju kompleks perumahanku, melewati trotoar yang biasa tukang bubur ayam itu mangkal, dan sepertinya senyum Embun terus menerus terkembang di sepanjang jalan.
Pagi ini sudah kuputuskan untuk menemui Embun di tukang bubur seperti biasanya, aku sudah memesan pesananku, bubur porsi normal dengan satu sate ati ayam. Dengan perasaan bimbang dan getir aku memakan bubur ayam ini, seperti ada yang mengganjal, aku menghentikan makanku.
"Kok bengong, Mas ?" tanya Mang Supri, penjual bubur. Ya, kami sudah kenalan.
"Neng Embun gausah ditungguin Mas." Deg !. Tiba-tiba kacamataku seperti mau jatuh dari wajahku.
"Dia nitip ini kemarin buat Mas. Katanya kalau Mas makan bubur di sini lagi, saya disuruh ngasih Mas, ini. Sate telur puyuh." Mang Supri memberi sate telur puyuh itu ke atas mangkukku yang sudah setengah, ia sandingkan dengan sate ati pilihanku. Sepasang.
"Embun memangnya kemana, Mang ?" tanyaku dengan diam yang lebih lama.
Namun, jawaban dari pertanyaanku hanyalah gelengan kepala Mang Supri.
Embun, aku mengenalmu di pagi pertamaku, dan sekarang kau menghilang di pagi terakhirmu. Embun yang dingin. Embun, apa semua embun selalu muncul di pagi hari dan menghilang setelah fajar terbit ?
Komentar
Posting Komentar