Kepada Tuan
Tanpa jenaka, kutatap
dua bola mata
yang dulu selalu
memberi keteduhan hati
tak ada terang
hanya kelabu
dan kayu menjadi arang
kemudian hancur menjadi abu
Tuan, kedua tangan ini
masih merah
baunya anyir
juga sebilah pisau dipangkuanku
jangan melawan, Tuan
aku hanya ingin menyayat
dan terus menyayat
tipis hingga hilang laksana kabut
dengan segala kerendahan hati
kupersembahkan padamu, Tuan
sepiring nostalgia
yang tak sengaja, kusayat-sayat.
16 Oktober 2013
23:40
terbang saja... jangan lihat kebelakang, atau kau akan buta karena melihat pantatmu sendiri, kunang-kunang.
dua bola mata
yang dulu selalu
memberi keteduhan hati
tak ada terang
hanya kelabu
dan kayu menjadi arang
kemudian hancur menjadi abu
Tuan, kedua tangan ini
masih merah
baunya anyir
juga sebilah pisau dipangkuanku
jangan melawan, Tuan
aku hanya ingin menyayat
dan terus menyayat
tipis hingga hilang laksana kabut
dengan segala kerendahan hati
kupersembahkan padamu, Tuan
sepiring nostalgia
yang tak sengaja, kusayat-sayat.
16 Oktober 2013
23:40
terbang saja... jangan lihat kebelakang, atau kau akan buta karena melihat pantatmu sendiri, kunang-kunang.
Komentar
Posting Komentar