Pintu


Seorang lelaki di taman kota, memegang bunga mawar, sesekali melirik jam di tangannya. Menunggu yang ia nantikan. Sudah tiga jam… akhirnya ia memutuskan untuk menulis sesuatu. Pesan sepertinya.
Kita pernah bertemu sebelumnya, sekali. Kau dan aku hanya sebatas pengagum dari masing-masing sifat yang saling kita tunjukkan. Aku sedang menunggumu di taman yang kau janjikan untuk bertemu pada suatu sore untuk melihat senja, tapi nyatanya aku yang melihat senja itu, sendirian. Aku ingin kau mengenalku melalui kata karena kutahu semerdu apapun suaramu di ujung telepon tak bisa selalu kurekam di memoriku. Maka, aku menulis ini agar selalu bisa kau baca, ketika waktumu senggang.
Aku sudah terlalu akrab dengan sepinya hari, yang tanpa kuminta terkadang diam sendiri, juga tentang semilir angin yang sering merayap sampai urat-urat leher. Kadang aku hanya tak habis pikir dengan manusia, jenis sepertiku juga. Beberapa datang dan pergi. Itulah yang menyebabkanku menutup diri dari sapaan, kecuali embun pagi.
            Biar sedikit kuceritakan tentang yang kuharapkan datang lalu seketika pergi. Ada juga yang tiba-tiba datang lalu pamit tak kembali, mungkin ia tak mengerti bahwa rasa tak hanya soal yang lebih kuat menanti, tapi yang selalu ada dan tidak pernah pergi.
            Cerita pertama tentang sebuah rasa nyaman yang awalnya kurasa sebagai perasaan cinta, tapi sayangnya dahulu aku tak mengerti apa itu cinta. Tapi kemudian aku tidak merasakan hal yang sama lagi, seiring dengan berjalannya waktu, aku sadar, aku tak mencintainya. Ia dengan sengaja kulepaskan pergi, meski berkali ia tanya mengapa. Aku bungkam, tak tega untuk mengatakan aku tak mencintainya, tetapi dengan bodohnya aku tega meninggalkannya.
            Cerita kedua perihal jarak. Klasik. Ketika kita sama-sama mencintai lalu ia pergi dan berjanji untuk pulang. Aku hanya menjadi ampas kopi yang mengendap di dasar gelas, menanti sampai perasaan ini kebas, mengeras dan tinggal menunggu waktu untuk hancur. Ia pulang, aku senang, dan ia pamit untuk tak lagi menjadi milikku. Jangan tanya perihal hatiku.
            Cerita ketiga tentang pengorbanan. Ya… karena ini cerita yang paling menyedihkan. Kau hanya perlu tahu ketika kemudian semua yang kau korbankan dihempaskan. Aku terlalu sesak mengenangnya. Aku tak berharap kau ingin tahu lebih lanjut cerita ketiga ini.
            Setelah ketiga cerita tersebut, aku absen dari rasa yang sering kau sebut cinta. Aku menjadi terlalu sulit untuk bangkit dari semua manusia yang pernah datang dan pergi. Mungkin kau juga pernah merasakan salah satu dari ketiga ceritaku, atau mungkin ceritamu lebih banyak ? Kau harus lebih banyak bercerita.
            Kemudian kau datang tepat di depanku saat aku sedang benar-benar tepat duduk di bangku taman ini dan semua berlanjut di ujung telepon. Selanjutnya selama dua tahun kau hanya bisa kuraih sebatas suaramu. Oase, namamu. Hanya itu, tidak ada nama depan atau belakang. Tapi, aku cinta dengan penantian ini hingga mengantarkanku ke tempat ini lagi.
            Aku senang setelah sekian lama kau tak bisa dihubungi, kau ingin menemuiku, akhirnya. Entah pertemuan ini benar-benar menjadi akhir aku tak tahu. Tapi kau perlu tahu Oase dan juga mata cokelat muda milikmu, detik ini aku lelah. Kau tahu semua manusia yang datang dan pergi itu jelas. Tapi perkara dirimu, kau datang dan pergi di saat yang sama. Ketika aku merasa kau datang, sesungguhnya kau pergi dan ketika kukira kau pergi, kau datang.
Apa dirimu memang sebebas merpati ?
Atau memang aku ini sebatas pintu yang bebas kau lewati kapan pun ?
Aku pintu, yang senang ketika kau ketuk diriku dan datang.
Dan aku pintu, yang selalu mengharapkan kau pulang ketika baru saja pergi.
Mungkin seperti itulah manusia, diciptakan untuk datang dan pergi.
Semburat awan tipis berwarna oranye keemasan perlahan tertarik ke sebelah barat, tertelan bersama fajar yang mulai bosan, lelah, dan ingin istirahat. Lelaki itu berdiri, ditinggalkannya secarik kertas itu sendiri bersama sorotan fajar yang mengecil dan hilang. Gadis bermata cokelat muda itu hanya bisa menatap dari kejauhan memohon kepada Tuhan, untuk semenit saja mengembalikan dirinya ke bumi. Ia tak ingin lelaki itu memiliki cerita keempat tentang perasaan yang ditinggal mati.

Komentar

  1. Astagah gue kira ini cerpen pas awal awal gue baca...taunya curcol :') ngahahaja bagus baguus

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer