Sepotong hati yang terselip
Dia merebahkan tubuhnya di atas bangku panjang yang dinaungi oleh pohon Beringin yang rindang, melepas kacamata dan menyelipkan pembatas buku di bagian tengah, tinggal sedikit lagi ia akan menyelesaikan bacaannya, Dunia Sophie - Jostein Gaarder. Kepalanya sedikit mendongak ke atas menatapku yang hanya bisa menguap lebar-lebar. Kau pasti mengerti mengapa mahasiswa seperti aku sangat tersiksa memiliki teman yang hobinya hanya membaca buku... buku... dan buku, padahal dia lelaki. Disaat lelaki seumurnya sedang berusaha untuk membeli majalah dewasa yang akan ia baca di sela-sela jam kuliah, dia justru menyusupkan beberapa buku tebal dan novel-novel di antara tugas dan makalah statistikanya.
Di saat-saat tidak ada mata kuliah seperti ini, dia lebih senang mengajakku duduk di bawah pohon beringin, pohon yang sudah terlalu tua, tetapi terlihat semakin berwibawa dengan akar-akar besarnya yang mencengkram kuat di dasar tanah.
"Diem aja dari tadi, korslet ya abis kuis barusan ? santai saja." sindirnya sambil senyum-senyum, sepertinya dia sudah membaca pikiranku.
"Gue juga bakal santai kalau gue punya otak yang sama kayak lo" serangku sambil mengutak-atik playlist lagu yang akan kudengarkan untuk mengisi kebosananku selagi menemaninya membaca buku, dia langsung meraih pipiku, mencubit dengan jari besarnya, sekenanya. #NowPlaying Depapepe - This way .
Gara beringsut bangun dari posisi rebahnya, memandang jalanan kampus yang lumayan ramai, beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol tentang sidangnya bulan depan dan beberapa lagi memandang ke arah kami dengan tatapan menuduh seolah aku dan Gara adalah sepasang kekasih. Apa kau juga berpikir begitu ? tolong, aku tidak sedang ingin muntah. Aku dan Gara dipertemukan di dalam kelas UTS Pancasila tiga tahun yang lalu, saat semester satu. Saat aku sangat benci kepadanya karena ia tidak memberitahu jawaban pilihan ganda nomor sebelas.
Rupanya ia sadar kalau aku adalah satu-satunya orang yang paling membencinya di kelas itu saat semua wanita mengagumi ketirusan pipinya, ketebalan alis matanya, dan aku hanya bisa merengut kesal saat nilainya selalu di atas rata-rata dan mencapai indeks prestasi kumulatif mendekati sempurna. Ternyata di luar perkiraanku, Gara justru menghampiriku dan terus menerus menyuapiku dengan buku-buku tebalnya, hingga akhirnya aku setuju untuk terus diajari olehnya. Tetapi dengan syarat, aku harus selalu menemaninya membaca buku di bawah pohon beringin ini. Jadilah aku dan dia seperti penunggu pohon ini, menjadi dua sisi yang berlawanan. Kadang aku sampai tertidur di pundaknya dengan telinga tersumbat headset dan ketika bangun pada saat sore hari, tas gemuknya sudah berada di bawah kepalaku sebagai alas, dan dia masih terus membaca bukunya sampai terkadang ikut tertidur di sebelahku.
"Ta, bersyukur. Tuhan itu menciptakan kita berbeda biar kita bisa belajar. Apa asiknya semua orang di dunia ini mempunyai kesukaan, kemampuan, bahkan yang lebih ekstrim lagi ciri fisik yang sama, dipukul rata jadi cantik dan ganteng semua, gaada relativitas. Apa dunia ini masih asik ?" pertanyaan Gara yang menggantung seperti jemuran basah itu terngiang-ngiang di kepalaku.
Aku hanya menjawab pertanyaan Gara dengan kedikan bahu, tidak semua yang ia pikirkan dapat kuterima begitu saja, meski pernyataannya memang banyak benarnya. Tapi bukan Kanata namanya kalau tidak keras kepala, aku dilahirkan dengan kepala yang sekuat baja. Aku serius dalam hal ini. Kau tentu pernah mengalami kecelakaan pertamamu saat masih balita. Hal itu mungkin saja terjadi saat kau mencoba untuk berjalan atau sekedar menaiki kursi di meja makan. Tetapi kecelakaan perdanaku berbeda.
Pada saat itu usiaku baru menginjak dua tahun, aku masih ingat letupan kecil itu. Aku sedang diayun-ayun di gendongan gantung ketika kemudian dengan cerobohnya kakak lelakiku yang saat itu berusia tujuh tahun sedang main kembang api di dalam rumah. Maksud hati ia ingin memberikan kejutan untuk adik perempuan manisnya yang saat itu genap berusia dua tahun dengan memperlihatkan gemerlap kembang api . Ia mendekati kain gendong gantungku, tangan kanannya menggenggam sebuah pemantik gas dan kembang api dengan kawat panjang di ujungnya pada tangan kirinya.
Tik... pemantik gas dinyalakan, tetapi rasanya malah ujung kain yang tebakar. Wajah Kak Lito mulai panik, ia berlari terbirit-birit ke dapur membasahi karpet kamar mandi sampai membanjiri dapur sambil meneriaki nama Ibu yang sedang sibuk menyapu halaman rumah. Beberapa detik sebelum Kak Lito sampai padaku, tali tambang pengait dengan kain sukses terbakar dan aku mendarat dengan posisi dahi menantuk ubin. Kak Lito menghadiahiku sebuah benjol sebesar bola kasti di dahi kananku yang tak kunjung kempis selama dua minggu. Sesudahnya persembahan dari ayah... Kak Lito mendapat sabetan gesper di pantatnya.
"Lo spesial, Kanata. Yang lo punya, belum tentu gue punya." Gara mengacak lembut rambut kuncir kudaku yang akhirnya berantakan karena tangan isengnya, buru-buru kutepis.
"Kalau memang benar begitu, kenapa lo gak pernah pengen tentang apa yang gue punya ?" tanyaku, kali ini aku menatap mata cokelat mudanya, sebuah ciptaan terindah Tuhan ada dihadapanku, andai kau tahu.
"Karena, apa yang lo punya belum tentu sanggup ada di dalam diri gue. Itulah karakter Ta, kenapa sih semua orang selalu berusaha menjadi orang lain ? Padahal di dalam diri mereka, mereka membawa sifat yang ga akan dimiliki orang lain. Satu hal yang harus lo tahu Ta, Tuhan itu Maha Kreatif. Bahkan untuk bakteri yang sekecil itu aja, banyak macamnya, apalagi mahluk sempurna seperti kita ini, sia-sia kalau Tuhan hanya membuat duplikatnya dengan menciptakan pribadi yang sama" Jelas Gara, lagi-lagi bibirku hanya bisa menurut untuk terkatup rapat, tidak bisa membalikkan kata-katanya lagi.
Gara memakai kacamatanya dan melanjutkan membaca novelnya, meninggalkan aku dan pikiranku yang mengawang sendiri di sampingnya. Ketika ia sudah membuka bukunya, maka dunia adalah hanya kata-kata yang ada di depan matanya, bukan di sekelilingnya ataupun bimasakti sekalipun. Aku hendak beranjak dari kursi, dan tangan kanan Gara sigap menggamit tangan kiriku dan membenamkan kepalaku ke dalam pelukannya, dunia Gara yang selalu memiliki tatapan teduh.
"Jangan pernah, sekalipun. Meninggalkan orang yang selalu kau curi sepotong hatinya" Aku menarik tubuhku, ada desir aneh. Selama tiga tahun, tidak pernah ada perasaan ini ketika aku bersamanya, tetapi mengapa kini muncul... begitu saja ?
"Di setiap lembaran buku yang gue baca saat bersama lo, terselip perasaan aneh sekaligus tenang, dan gue rasa potong demi potong hati ini sekarang milik lo, Kanata." Ucapnya pelan sambil terus menunduk memandang bukunya
"Gue sudah selesai bacanya. Gue harap gue selalu punya buku yang bakal gue baca di samping lo."
Kau tahu, saat itu juga daun beringin serempak berguguran walau hanya beberapa helai, setidaknya aku mengerti akan perbedaan itu. Akan ada banyak lagu-lagu yang diputar saat bersamaan banyak buku yang akan ia baca. Kita menatap birunya langit dalam dua perspektif, hingga kedua mata ini terpejam dan hanya bisa mendengarkan nyanyian angin.
Jakarta, 29 November 2013
Untuk 11.
bagus na,,,ceritanya simple,tapi runtut,jadi alurnya ngalir...kapan niih bikin novel?hehehe,
BalasHapusMakasih banyak Annaa :) Ini lagi ongoing, doakan sajaaaa , tetap menjadi pembaca setia aku yaaa :*
HapusRegards,
Sarang Kata Cahyani :*