Sahabat Hujan
Aku tahu seharusnya pagi ini tidak memutuskan untuk berangkat sekolah. Seharusnya aku hanya cukup berada di rumah dan sedang menggunting-gunting kain batik untuk ibuku jahit menjadi daster di kompeksi sebelah rumah, tetapi aku memilih untuk duduk terkulai di atas kursi kayu yang keras dan mendengarkan guru matematika yang menjelaskan rumus di depan kelas dan tak jarang aku menguap lebar-lebar. Mataku mengerling ke luar jendela kelas, awan rendah, stratus nimbus.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang, Akia.
"Cabut, yuk." Ajaknya. Perempuan satu ini terlihat serius mengajakku. Dia sudah gila.
"Ke mana ?"
Aku sudah berada di luar gerbang sekolah, perempuan ini gila. Dia mengajakku berlari sejauh-jauhnya meninggalkan gerbang sekolah sampai ketika aku menoleh ke belakang, hanya teriakan satpam sekolah yang terdengar samar-samar, dia sama sekali tidak peduli akan dipanggil ke ruang guru BK esok hari.
"Aku mencari momen ini. Momen ketika akan turun hujan. Buka sepatumu, biarkan telapak kakimu menyentuh rumput basah, sejuk." Ujarnya, sepatu miliknya sudah dibungkus oleh kantung plastik, agar besok bisa dipakai sekolah lagi, katanya.
Ia masih menatapku dengan mengangsurkan kantung plastik berisi sepatunya, menungguku melepas sepatu. Namun aku masih diam, masih tidak mengerti dengan maunya.
"Kenapa gue ?"
"Maksud kamu ?"
"Kenapa gue yang lo ajak cabut ?"
"Karena kamu teduh, Oaky."
"Dan kau gila, Akia. Perempuan tergila yang mengajak gue bolos ke taman untuk sekedar mandi hujan."
"Ini bukan sekedar mandi hujan, Oaky."
Akhirnya, aku dan Akia hanya berdiri dengan mata terpejam, merentangkan tangan, dan membiarkan tetes-tetes gerimis hingga hujan deras menerpa wajah, telapak tangan, dan seluruh tubuh kami. Ternyata begini, sejuk yang Akia maksud, kesejukan dari Tuhan, kesejukan abadi, hanya ada pada air hujan.
"Jangan pernah membuka matamu, Oaky. Cukup nikmati saja semua tetesan yang jatuh. Inilah bahagia yang selalu kutunggu. Orang-orang seperti kita sangat mudah menikmati kebahagiaan alami, secara bebas."
Aku masih diam, masih membiarkan tanganku menggenggam dinginnya air hujan. Ketika kusadari sudah tak ada lagi yang jatuh menerpa tubuhku, hujannya reda. Pelan-pelan aku membuka mata, mencari sosok Akia yang ternyata sudah berada di atas tanah. Aku mengguncang tubuhnya, tidak bergerak, tak ada yang berdenyut dari dalam sana.
Akia menemukan kebahagiaan abadi. Rambut panjang sebahunya basah, aku hanya bisa memeluk perempuan ini ke dalam dekapanku, lelaki yang selama ini tidak pernah sadar selalu diperhatikan di dalam kelas, dan Akia adalah pemilik mata itu, mata yang selalu memerhatikan tingkahku. Dan sore ini, kebahagiaan Akia lengkap, menikmati hujan bersamaku.
Wahai langit, sekali lagi saja. Turunkan hujan untuknya, ia adalah sahabat setia sang hujan, yang tak pernah sekalipun melewatkan gemuruhmu, yang selalu merentangkan tangan ketika sang hujan turun, ia memeluk hujan.
Dan aku selalu menunggumu dalam hujan, Akia.
Komentar
Posting Komentar