Jangan Katakan !
Aku berkali-kali menutup telingaku dengan bantal segi empat, tidak ingin mendengar apapun dari benda kecil yang bernama ponsel yang tergeletak satu meter di ujung tempat tidurku. Aku bukannya tidak ingin mendengar suara beratmu, bukannya tidak ingin mendengarkan apa yang ingin kau ungkapkan, bukannya tidak ingin mendengar tawa renyahmu, bukan. Aku hanya ingin berpikir jernih saat ini. Mungkin disana kau bertanya-tanya dengan sikapku yang sekarang, apakah aku marah padamu atau bagaimana, tapi sungguh aku hanya tidak mau memikirkan seluruh harapan-harapan palsu yang kau berikan yang di ujungnya hanya membuatku terhempas jatuh . Seminggu yang lalu dan malam-malam kemarin aku masih bisa menikmati suara beratmu di ujung telepon, masih bisa bercanda walaupun canda itu sepertinya tidak terlalu lucu, masih bisa menebak-nebak raut wajahmu saat aku memberikanmu candaan-candaan plesetan, tapi kini? sungguh mendengarmu mengucapkan salam dari ujung telepon saja rasanya terlalu sakit.
Kau memang satu-satunya lelaki yang bisa membuatku terdiam dalam kekaguman, dengan segala pengetahuan luas yang kau tahu, aku semakin kagum dengan lelaki cerdas sepertimu, seperti magnet yang menarik medannya, begitu cepat aku menyukaimu. Aku tidak pernah salah menyukaimu, karena ulahmu aku menyukaimu. Rasanya terlalu bodoh memang ketika sedang rapuh-rapuhnya, lalu diobati oleh seseorang yang seolah memberi harapan lebih. Tetapi harapan itu kemudian luntur begitu saja ketika perasaanku sudah mulai sama karena rayuannya. Semakin kau ulur layang-layang yang memang sengaja kau beri benang yang panjang. Ketika sadar, layang-layang itu semakin kebawah..kebawah.. dan ketika ditelusuri, sudah tidak ada lagi jemari yang menggenggam benangnya. Ya, layang-layang itu aku.
Kau selalu bicara tentang perasaan yang sedang kau rasakan saat aku memang merasa wanita yang sedang kau kagumi itu aku, sungguh bukan perasaanku yang telalu percaya diri, tetapi memang seluruh perhatian yang kau berikan jelas adanya untukku. Dan apakah aku salah ketika hati ini menjadi cinta kepadamu ?
Tidak, bukan ?
Ketika kemudian tak ada kabar tentangmu, aku memang merindu, walaupun tidak banyak, masih normal. Tapi sungguh perasaan ini menyiksa, menunggu kabar darimu yang tak kunjung datang. Memang bisa saja aku yang menghubungimu terlebih dahulu, tetapi.. aku kan wanita ? masa bodoh dengan emansipasi wanita, bukan hanya aku yang bermasalah dengan gengsi di dunia ini. Aku sengaja tidak menghubungimu, agar kesannya aku tidak terlalu banyak mengharapkanmu, tetapi sia-sia saja, harapan tinggal harapan.
Satu pintaku saat ini jika saja kau mengetahui perasaanku tanpa aku harus memberitahukan kepadamu, aku meminta agar kau tidak lagi mengisyaratkan hal yang kau sebut cinta kepadaku, jangan pernah katakan atau isyaratkan LAGI.
Ponselku berdering lagi, namamu yang tertera di sana. Aku menekan tombol hijau .
"Halo" Sapaku
"Mengapa tak kau angkat teleponku?" Tanyanya
"Ini aku sedang mengangkatnya"
"Maaf ya"
"Untuk apa?" Tanyaku
"Segalanya"
"Tak apa" Ada jeda panjang setelah itu.
"Hey.." Dia memulai
"Iya ?"
"Aku kangen sama kamu"
"Sudahlah, jangan kau ucapkan."
Aku menekan tombol merah lama sekali sampai layar ponselku meredup.
Untuk seseorang di sana yang hanya bisa memberikan isyarat, sepertinya kita memang hanya sahabat yang terperangkap dalam rasa yang aneh bernama cinta, terimakasih.
Komentar
Posting Komentar