Friendzone and always be

Malam 23: 23:21

Sudah sekitar satu jam gagang telepon berada di samping kiri telingaku, aku sedang mendengarkan seseorang diseberang sana memetik gitar dan menyanyikan lagu A Rocket To The Moon-Ever Enough . Suara bariton khasnya selalu menghipnotisku dalam menyanyikan lagu apapun. Petikan gitarnya berhenti pada kunci terakhir, kutaksir itu kunci D. 

"Bagaimana suara gue? Itu lagu yang lagi gue suka banget, Nay" Ucap Kay diujung telepon, aku mengikik, pura-pura berpikir untuk menjawab pertanyaannya, padahal aku sangat ingin berteriak mengatakan suaranya sejernih lirihan angin.

"Hm.. bagaimana ya? hehe bagus kok Kay. Lain kali gue mau denger lo nyanyi lagu yang agak nge-beat gitu. Selama ini lo nyanyi kayaknya mellow terus . Apa kebawa perasaan? hahaha" 

"Iya, perasaan gue digantungin lo terus sih" 

"Apa?" Tanyaku yang kemudian tersadar dengan perkataannya barusan.

"Oh gapapaaa hahaha tidur lo ! besok malam gue telepon lagi kalau lo ga sibuk"

"Emangnya lo ga pernah sibuk?" 

"Sibuk sih, sibuk mencari cinta lo"

"Apa?" Aku tidak tahu kenapa dari tadi respon yang keluar dari bibirku hanya pertanyaan bodoh itu.

"Aaaah itu tandanya lo sudah ngantuk, bye Nay, Good Night !" Klik. 


Malam 29 : 21:13

"Nay, lo masih dengerin gue,kan?" Tanya Kay yang sedari tadi sibuk menceritakan gebetan barunya yang baru ia kenal di kampus, kebetulan satu jurusan.

"Yaa.. ya masih Kay. Terus gimana? lo minta nomornya?" Tanyaku terpaksa, sebenarnya aku tidak begitu tertarik mendengar hal ini, dadaku seperti mendidih dan terus menghela nafas berat.

"Gak berani gue, gue cuma ngobrol sebentar sama dia, dan lo tau ? dia juga suka Doraemon Nay! betapa jodohnya dia sama gue !" Aku mencibir, tanda tidak suka.

"Kay, gue ngantuk. Gue tidur duluan ya, bye

"Nay..Nay ! Gue belum-" Klik. Ya lo memang belum selesai, tapi gue muak.


Malam 42 : 22:04

Kali ini Kay terlalu banyak menghela nafas berat, pendekatannya dengan wanita yang bernama Nadira tidak semulus pantat bayi. Beberapa kali Kay melihat Nadira dijemput oleh seorang lelaki yang wajahnya seperti wajah-wajah boyband . 

"Gue nyerah deh Nay. Eh lagi ngapain lo ?''

"Lagi bernafas." Jawabku sekenanya

"Serius tau !" 

"Ya menurut loooo? apa bisa gue ngomong kayak gini kalau gak napas?"

"Ah tau ah"

"Yaudah" Kali ini aku yang mematikan telepon.


Malam 54 : 22:04

Kay jadian dengan Nadira. Sudah ada empat belas panggilan tak terjawab dari Kay. Sampai sekarang aku hanya memantau Kay melalui timeline twitter saja . Seperti orang kasmaran yang dimabuk cinta, Kay menuliskan kata-kata manis untuk pacarnya. Salah satu tweet nya untukku "Kemana sih lo Nay?" Ya lo pikir aja kemana  . Handphoneku bergetar lagi, Kay penyebabnya.

"Halo" sapaku

"Naaaaaaaaaay ! lo kemana aja sih ? kebiasaan lama, hape pasti ditaruh dimana-mana deh? ya kan?" 

"Engga, daritadi ada disamping gue"

"Terus lo kemana? tidur?"

"Engga, gue bangun." 

"Terus kenapa gak angkat telepon gue?"

"Memangnya semua telepon dari lo harus gue angkat? kenapa sekali aja gue diizinin untuk gak mendengar curhat lo tentang cewe itu ?"

"Maksud lo Nay?"

"Lo gak pernah ngerti ? ada gitu cewe yang rela tidur malamnya keganggu demi dengerin suara yang selalu ingin dia denger? lo harusnya peka, lo harusnya juga bertanya, jangan selalu maunya ditanya."

"Gue gak ngerti."

"Emang lo ga akan pernah ngerti tentang perasaan gue." aku menangis, aku benci hal ini ketika rasa yang tak terbendung dan selalu diakhiri dengan tangisan.

"Lo.. suka sama gue?"

"MENURUT LO ?!"

"Oke, tapi gue udah punya Nadira, gue kira kita cuma sahabat"

"Yeah, and always be! bye Kay !" aku menutup telepon dan memeluk bantal yang sedari tadi sudah terkulai kuremas-remas sambil mengeluarkan kata-kata yang sejak dulu ingin kukatakan. Aku mengeluarkan sim card dari handphoneku dan mengguntingnya menjadi dua bagian. Selamat tinggal Kay. 

Komentar

Postingan Populer