Jakarta Dikhianati
Pada
awal tahun 2013 yang lalu, warga DKI Jakarta seperti diberi kejutan dengan air
bah atau banjir yang tiba-tiba dating akibat hujan yang cukup besar. Warga DKI
Jakarta tidak dapat memungkiri bahwa banjir yang terjadi saat itu adalah banjir
terbesar yang pernah terjadi di Ibu Kota Indonesia .Bayangkan saja, Bundaran
Hotel Indonesia dan Istana Merdeka yang merupakan pusat bisnis dan pemerintahan
terbesar di DKI Jakarta ikut tergenang banjir yang genangannya tidak main-main,
diperkirakan mencapai lutut orang dewasa . Aktivitas Jakarta seakan-akan lumpuh
pada saat bersamaan,banyak mobil-mobil dan motor-motor yang mogok dan jalan protocol
di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin dan Medan Merdeka macet total.
Salah
satu penyebab banjir diantara banyak penyebab banjir lainnya yaitu karena banyak
juga warga DKI Jakarta yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan dengan membuang sampah
sembarangan dan membuang sampah ke kali atau sungai.Pemandangan sampah mengambang
dan menggungung di sungai layaknya “daratanbaru”, daratan baru itu mudah ditemukan
di Pintu Air Manggarai.Setiap pagi,sampah-sampah seperti Styrofoam banyak sekali
mengambang hamper menutupi seluruh permukaan pintu air Manggarai.
Ternyata
bukan hanya setiap pagi, bahkan ketika hari menjelang malam, sampah-sampah itu hanya
berkurang sedikit walaupun telah dikeruk oleh alat berat.Coba tebak, pada keesokan
harinya permukaan pintu air Manggarai seperti “daratanbaru” lagi dengan jumlah sampahnya
yang semakin banyak. Hal ini menunjukkan bahwa setiap detiknya pasti ada saja
orang yang membuang sampah ke sungai.Sangat memprihatinkan disaat lahan DKI
Jakarta yang sangat luas dan sangat subur bagi bisnis dan tempat tinggal yang
layak, warga nya justru dengan mudah mengkhianati Jakarta sebagai tempat kelahiran
dan bisnisnya dengan membuang sampah di sungai yang menyebabkan Jakarta terkena
imbas banjir yang cukup parah .
Ketika
dilakukan wawancara dengan masyarakat mengenai masalah membuang sampah di
sungai, kebanyakan dari mereka menjawab dengan polos “karena membuang sampah di
sungai adalah hal yang paling mudah dilakukan daripada menunggu tukang pengangkut
sampah yang tidak kunjung dating mengambil sampah dan akhirnya pekarangan rumah
menjadi tidak enak dipandang dan juga bau.” Dari pernyataan itu, dapat dilihat bahwa
kesadaran warga akan bahaya membuang sampah di sungai sangat rendah dan juga kepengurusan
sampah oleh Pemda DKI Jakarta yang kurang tanggap.
Apakah
mata kita sanggup melihat Jakarta, kota kelahiran kita sedikit demi sedikit tenggelam?.
Apakah hati kita cukup kuat untuk melihat rumah-rumah dan bangunan ibadah yang
sedikit demi sedikit hancur akibat kikisan air?. Dan, apakah telinga kita cukup
tangguh untuk selalu mendengar tangisan bayi yang kedinginan dan menahan gigitan
nyamuk-nyamuk yang mulai bersarang di dekat tempat tidurnya ?.Cobalah berpikir sejenak,
tentang sampah yang mulai meninggi akibat keegoisan kita sebagai warga yang
kurang memerhatikan lingkungan sehingga keseimbangannya pun mulai terganggu .
Akhirnya
dapat kita simpulkan bahwa pengkhianatan warga Jakarta terhadap Jakarta yaitu dengan
membuang sampah di sungai. Hal itu dapat membahayakan ketika sampah lama
kelamaan menumpuk dan kemudian pada puncaknya ketika musim hujan, gunungan sampah
itu akan menahan aktivitas jalannya air dan memenuhi debit air sungai, akhirnya
air meluap ke permukaan tanpa mampu dibendung dan terjadilah banjir yang
akhirnya sangat merugikan semua orang .
Tindakan
yang harus dilakukan untuk meminimalisir tindak pembuangan sampah ke sungai yaitu
dengan menumbuhkan kesadaran kepada warga Jakarta yang sepertinya telah mendapat
teguran berupa banjir dari apa yang dilakukannya selama ini , dan juga yang
paling penting adalah kerja sama dari Pemda DKI Jakarta yang harus secara berkala
mengeruk sampah di sungai, agar jalannya air sungai tidak terganggu. Jangan khianati
Jakarta kita dengan sampah, karena sampah bias saja mengkhianati kita dengan banjir.

Komentar
Posting Komentar