Cinderella's Complex
Hm mulai dari
mana ya ? Yaudahlah ya gausah kaku-kaku amat, amat aja gak kaku, masih idup.
Belakangan ini
gue sering menemukan fenomena lucu di sekitar gue. Paling banyak emang terjadi
sama kaum perempuan yang hidup di zaman serba digital kayaknya rada bikin
pusing dunia persilatan Indonesia juga makanya sekarang sinetron Angling Dharma
udah engga ada (Hubungannya apa ? Gatau). Masalah perempuan saat ini yang
paling banyak gue liat di akun sosial media adalah baper (bawa perasaan). Bawa
perasaan atau yaudahlah ya singkat aja baper mungkin adalah efek negatif dari
munculnya kepekaan dari diri sendiri. Sederhananya sih gini, di bangku kuliah
gue belajar bagaimana menindaklanjuti tuturan (ujaran) dan bahasa tulis. Kalau
di ilmu bahasa namanya Pragmatik.
Pragmatik secara
garis besar mengajari gue banyak hal, terutama kepekaan. Contoh kasusnya kayak
gini :
A : Ayam
B : Bebek
Ayam dan Bebek adalah sepasang
kekasih.
(Lagi nunggu angkot abis
muter-muter nyari Itik ga ketemu-ketemu [ga ngerti deh kalian kenapa mereka
bisa nunggu angkot {bodo amat}] siang-siang, di sampingnya ada penjual es
kelapa)
A : Bek, tau gak bumi itu urutan
keberapa dalam tata surya ?
B : Tau laah, dulu nilai IPS aku
9, urutan ketiga lah sayang. Tapi kamu tetap yang pertama kok di hati aku.
A: Ah bisa ajaaaa. Iya bek bumi
selalu berrotasi sama matahari, makanya ada siang dan malam. Apa si bumi gak
haus,Bek ?
B : Engga lah Ayam sayang, bumi
kan sepertiga nya udah air semua. (Sambil nyubit Ayam)
A : Tapi kan Bek, penduduk
buminya juga capek kali, muterin matahari yang panas itu. Kalau aku jadi bumi sih aku haus banget (Ngomongnya
bete karena Bebek ga ngerti apa yang Ayam maksud)
B : Kan ada gravitasi, tenang aja
sayang.
A : Yaudah deh aku mau beli es
kelapa dulu !!
Contoh kasus
yang gue kasih bikin jelas apa bikin muntah ? Hahaha . Kalau bedasarkan contoh
kasus itu si Ayam nunggu kepekaannya si Bebek untuk beliin dia es kelapa karena
haus banget karena nyariin si Itik ga ketemu-ketemu. Tapi sayang si bebek ga
peka sehingga Ayam jadi baper dengan beli es kelapanya sendiri. Kalo kata
bangku kuliah mah, si Bebek gak nangkep pragmatiknya Ayam, tindaknya hanya
sampai menanggapi (ilokusi), bukan menindaklanjuti (perlokusi).
Ini nih,
kebanyakan perempuan sekarang terlalu banyak mengharapkan tindakan heroik dari
cowo, share status di media sosial
kadang suka berlebihan dengan tujuan agar orang yang diharapkan merespon ‘kode’
nya. Yang jadi masalah adalah tidak banyak orang yang peka, atau bahkan tidak
banyak orang yang benar-benar peduli. Sehingga dalam melihat sesuatu
memilah-milah mana yang prioritas dan mana yang tidak menjadi prioritas (Sotoy,
2015 :1246). Terus kalau orang yang dimaksud makin ga peka, tingkat baper mulai
tinggi, jadi sensitif , dan berpengaruh buruk sama orang-orang di sekitarnya
yang biasanya jadi imbas kebaperannya.
Hal ini
mengajarkan gue banyak hal sih, yang pertama yaudah apa adanya aja, hidup itu
gak harus kayak dongeng-dongeng Disney, happy
ending kayak Cinderella. Perempuan kadang terlalu berharap semua lelaki
seperti Pangeran di dongeng-dongeng yang selalu menuruti titah sang tuan putri.
Ketika keinginannya gak diturutin ngambeknya sewindu. Terus juga mengharapkan
semua lelaki setia ketika pacaran, gak ada sih lelaki yang benar-benar setia
saat pacaran, Ga ada. Jadi ketika diselingkuhin marah dan ngambek setengah mati,
padahal punya ikatan aja belum. Menjalin ikatan yang tak terikat, modalnya cuma
kepercayaan yang suatu saat bisa digadaikan kapan aja. Pacaran itu taruhan
terbesar dalam hidup seorang perempuan, kalau menang ya dua-duanya hidup
bahagia, kalau kalah ya pasti salah satu ada yang gak bahagia, dikecewakan,
atau saling mengecewakan hingga akhirnya memilih untuk sama-sama mundur.
Kejadian beberapa
waktu yang lalu juga ngasih beberapa pelajaran bahwa kepercayaan ga harus
digadaikan sepenuhnya sama seseorang. Bahkan mulai detik ini gue hanya menaruh
kepercayaan pada Tuhan dan orang tua. Karena manusia di sekitar kita itu asing,
sama-sama mengawali dengan pertemuan, mengakhiri dengan perpisahan. Kartun
Disney tetaplah kartun Disney. Selalu berakhir bahagia. Satu hal yang mungkin
tidak kalian sadari, mereka warga kartun tidaklah hidup di kehidupan yang
sebenarnya. Fantasi hanya sebagai pembelajaran kehidupan untuk berbuat baik. Kita
diajarkan untuk tidak seperti saudara tiri Cinderella dan Ibu tirinya yang
serakah dan sombong, kemudian menjadi manusia yang sabar dan selalu menerima
dengan lapang dada. Itu adalah amanat sebenarnya. Sedangkan yang
terrealisasikan di kehidupan saat ini adalah hidup harus selalu bahagia dengan
cara apapun, menunggu hingga pangeran berkuda putih datang untuk menyelamatkan.
Bukan itu, Cinderella tidak manja seperti itu.
Mengakhiri semua
ini, gue mau banyak berterima kasih kepada orang-orang di sekitar gue, yang
membantu mendewasakan dengan berbagai cara, yang menyenangkan dan menyedihkan.
Terima kasih J

Komentar
Posting Komentar