Sebuah Cara


Jakarta. Senin sore, hujan ringan.
            Beberapa pasang kaki dibiarkan berjalan tanpa alas di depan ruko sore ini, sepertinya hal itu dilakukan agar esok hari tidak perlu mengganti sepatu karena Senin merupakan hari yang terlalu awal untuk mengganti sepatu. Mobil dan motor mulai merayapi jalanan Ibu Kota dengan sorotan lampu, desingan suara knalpot, dan putaran roda-roda yang gemas untuk cepat sampai ke rumah masing-masing. Berbeda dengan pengendara motor yang lain, Din terlihat santai walaupun agak cemas karena lupa membawa cover bag ketika di dalam tas nya ada satu buah laptop dan berbagai dokumen MoU klien yang harus ditandatangani saat rapat besok siang.
            Din bermain-main dengan waktu, ketika lima belas menit jalanan belum juga bergerak maju, ia mulai mencari cara sambil mengisi perutnya yang sejak makan siang tadi belum makan. Maka di warung kopi inilah Din menghabiskan satu porsi mie rebus dengan segelas teh manis hangat. Rupanya titik-titik air masih juga turun, terjun bebas tanpa penghalang. Hari ini bukan hari baik baginya, bukan hari yang ia inginkan, hari yang membuatnya berpikir lebih keras, hingga diam menguasai dirinya.
***
Kantor Metropolitan II. Senin pagi, cerah.
            Beberapa dokumen MoU sudah siap cetak, logo perusahaan tercetak rapi dan jelas. Jika tender ini dimenangkan maka proyek selanjutnya, Din menjadi koordinator dan kemungkinan naik jabatan tinggi. Pagi ini Pak Surya belum juga datang, padahal sudah satu jam dari janji yang mereka buat. Saat bertanya dengan Mela sekretarisnya, ia hanya meminta Din untuk menunggu. Apakah semua atasan menugasnya untuk pekerjaan baru ? Pekerjaan menunggu. Din melonggarkan sedikit dasinya, ambisinya hari ini adalah membicarakan MoU yang siap bertemu dengan klien sore ini.
            Bosan, Din kembali ke balik meja kerjanya, memesan cokelat panas pada Joni, officeboy di kantor ini. Tangannya mengklik tetikus dengan cepat sebelum bola-bola berwarna tersedot ke dalam mulut gua, tiada hari tanpa main Zuma.
            “Permisi Pak Din” Mela muncul dari balik sekat mengagetkan Din, semua bola tersedot mulout gua, game over .
            “Kata Pak Surya hari ini beliau tidak bisa datang, bapak ditugaskan menemui seseorang di alamat ini untuk mendiskusikan soal tender tersebut.” Jelas Mela.
            “Kapan ?”
            “Detik ini juga, Pak”
            Bertepatan dengan makan siang, restoran sushi yang tertera dalam alamat ini sama sekali tidak membuat Din berselera untuk makan. Seumur hidupnya ia hanya pernah makan sushi satu kali itu pun karena ia penasaran dengan makanan Jepang yang terkenal itu. Ternyata lidah memang tak bisa bohong, kelahiran Jawa Tengah tulen memang hanya akrab dengan angkringan dan gudeg. Ragu, Din akhirnya memesan ogura ice cream, es kacang merah Jepang, rasanya tidak begitu mengecewakan. Lima belas menit kemudian orang yang diduga utusan Pak Surya datang. Perempuan itu tidak mengenakan setelan kantor, tidak mengenakan sepatu hak tinggi seperti wanita pada umumnya, rambutnya diikat asal-asalan, dan tas selempang yang melingkar di pundaknya terlihat sangat berusia.
            Din mempersilahkan perempuan itu duduk di depannya dan tanpa basa-basi ia memesan sushi yang paling mahal di restoran ini. Ia memperkirakan bahwa usia perempuan ini tidak jauh berbeda dengannya, paling hanya terpaut dua atau tiga tahun lebih muda darinya. Inikah orang kepercayaan Pak Surya ?
            “Perkenalkan saya Sofi. Keponakan Oom Surya.” Katanya memperkenalkan diri dengan santai. Raut wajah Din agak terperangah sedikit dengan membentuk pernyataan di dalam kepala “Kok bisa ?”
            “Iya jadi Oom Surya harus terbang ke Lombok, menemui sanak saudara kami yang sedang sakit. Tapi tenang, saya sudah membawa beberapa catatan penting dari beliau. Saya juga tidak tahu menahu apa isi dokumen tebal ini.” Sofi mengeluarkan map cokelat dan beberapa catatan tulisan tangan Pak Surya. Din membaca sedikit dokumen ini, rupanya banyak yang harus direvisi, Pak Surya memang selalu menginginkan sesuatu yang sempurna.
            “Kalau Anda sama Oom Surya sudah menjadi rekan berapa lama ?” Sofi mengajak ngobrol Din yang terlihat pusing membaca catatan Oom nya itu.
            “Kira-kira lima tahun, selepas saya kuliah saya langsung bekerja di perusahaan ini dan menjadi rekan dengan Oom kamu.” Jawab Din dengan senyum, Sofi hanya bisa mengangguk sambil memakan pesanannya dengan lahap.
            “Gak baca doa dulu ?” Tanya Din iseng, melihat Sofi makan langsung tanpa menenegadahkan tangan atau melipat tangannya.
            “Biasanya Anda …”
            “Panggil saya, Din. Renindra Alfadin.”
            “Iya biasanya Din menengadahkan tangan atau melipat tangan ketika berdoa?” Tanya Sofi sambil mempraktekannya, pertanyaannya menyiratkan bertanya “Apa agamamu?”
            “Ooh kamu nanya agama saya ?”
            “Pertanyaan saya terdengar seperti itu ?” Tanya Sofi balik.
            “Saya berdoa dengan menengadahkan tangan seperti ini.” Jawab Din dengan mantap. “Kamu ?”
            “Saya berdoa dengan meyakini berterimaksih kepada seluruh alam ini, berkat ledakan besar bumi ratusan juta tahun yang lalu telah menciptakan berbagai perubahan dalam berbagai bidang. Tanah menjadi gembur karena diolah oleh mikroorganisme yang hidup meskipun cuaca ekstrim.” Jelas Sofi. Dahi Din mengernyit sebentar, agak tidak nyambung dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
            “Kamu kuliah jurusan Geografi ?” Tanya Din spontan. Mendengar hal itu, Sofi tertawa pelan dan meletakkan sumpitnya di samping piring.
            “Tidak, saya ambil ilmu filsafat.” Jawabnya tak kalah mantap dengan Din.
            Mendengar pernyataan Sofi, Din tercengang, potongan-potongan pembicaraannya seperti tersusun dengan rapi, ternyata ini korelasinya.
            “Kamu memandang semua yang ada di dunia ini dengan menggunakan logika ? Maka tidak ada konsep Ketuhanan untukmu ?” Din bertanya langsung tanpa basa-basi.
            “Saya hanya memandang dari segi Metafisika, pikiran saya belum sempat memikirkan hal seabstrak itu, Din.” Kembali Sofi menyantap sushinya dan Din mengalami perang batin.
            Diawali dengan obrolan bagaimana cara membaca doa, hingga hal ini berlanjut kepada kepercayaan yang dianut.
            “Lalu apa yang kamu yakini, Din ?”
            “Saya yakin Tuhan saya satu dan saya selalu meyakini Tuhan di setiap langkah saya.”
            Obrolan semakin serius, Din menjelaskan dengan berbagai hadist dan firman di dalam Al-qur’an yang ia tahu, dan Sofi dengan kontrasnya menjelaskan alam semesta dengan perhitungan dan berbagai macam teori, mulai dari teori big bang, teori massa, teori kabut, sampai teori relativitas.
            “Saya pikir setiap orang memiliki hak dan kebebasan memilih apa yang diyakininya, dan saya sendiri memilih untuk tidak meyakini apapun.Terima kasih Din, berkat semua dokumen ini saya bertemu dengan orang yang gigih meyakinkan saya untuk memilih satu dari beberapa pilihan. Walaupun saya terlihat seperti “golongan putih”, tapi saya suka berdiskusi dengan Din, bisa kita berteman ?”
            “Kenapa tidak ?” Din menyalami tangan Sofi sebagai tanda pertemanan. Bukan hal mudah untuk meyakinkan seseorang pada hari pertama bertemu. Ternyata berteman dengan Sofi membuat Din semakin menebalkan iman di dalam dirinya.

“Bagi saya, beginilah cara Tuhan mempertemukan kita siang ini, melalui dokumen yang mungkin menurutmu tidak jelas ini. Setiap hari, selalu ada cara Tuhan memberi warna di dunia ini.” 
*** 
Tak habis pikir mengenai hari, Din hanya tersenyum simpul menuju perjalanan pulangnya ke rumah.

Komentar

Postingan Populer