Menghela napas lebih banyak
Posting gue kali ini dibuat berdasarkan rasa bosan yang menyerang... dari ujung kaki sampai ubun-ubun.
Entah ini titik bermula atau titik tertinggi gue merasakan rasa jenuh, bosan, penat, muak, semua berkumpul jadi satu di dalam dunia perkuliahan.
Semester 4. Tingkat 2. Ditengah-tengah... sama seperti Pi di dalam Life of Pi yang terdampar di Laut dan tak kunjung menemukan daratan. Stagnansi ini yang sedang gue rasakan. Perasaan bosan dengan kelas, tugas, organisasi yang kadang menyita waktu gue hingga larut, dan urusan percintaan yang masih gue rasa masih butuh penyesuaian. Tak jarang akhir-akhir ini gue lebih suka memandang teman-teman gue yang belajar di dalam kelas dari luar kelas, minum milo sama makan gorengan bakwan. Kadang gue dadah-dadah ngeledek yang ada di dalam kelas, yang kupingnya mungkin pengang mendengarkan dongeng dosen pagi-pagi.
Bandel ? Bukan. Kalau lo mikir gue sekarang bandel, salah besar. Setiap orang punya cara masing-masing untuk mempertahankan hidup dari kebosanannya. Gue paham setiap harinya akan berhadapan dengan kelas, presentasi, presensi, buku, teman-teman, lorong jurusan, dan lain-lain. Maka dari itu, gue mencoba untuk keluar dari zona itu sebentar. Mencoba merasakan hak 'maha' yang dilekatkan pada kata 'siswa', mencoba memanfaatkan kebebasan gue, mamakai jatah absen gue.
Gue juga tidak mencoba untuk terlalu ngoyooooooo dengan kuliah. Oke oke, mungkin saat semester 1 dan 2 gue seperti itu, memang bagus, euforia pertama masuk kuliah, dapat IP gede yang kemudian malah menjadikan gue sombong, songong, ngegampangin kuliah. Semester selanjutnya... ya hancur lebur, meski masih kepala 3.
Tapi gue rasa, dinamika itu yang gue perlukan... naik-turunnya hidup gue.
Organisasi yang gue ikuti juga turut mengambil andil dalam kehidupan gue. Meskipun sepertinya gue lebih banyak belajar tanggungjawab di dalam organisasi, bukan di kelas yang kebanyakan cuma teori dosen dan yang lebih parahnya dosen itu jarang masuk. Bagusnya, di organisasi juga gue mencoba belajar mengatur waktu, menyisipkan waktu gue. Tapi, kadang gue juga gak memungkiri, waktu istirahat dan waktu mengerjakan tugas gue agak tersita. Yah... bagaimanapun, selama gue bisa bagi waktu, insya allah gak bakal keteteran lagi.
Balik lagi ke kebosanan awal gue. Ditambah lagi... teman. Gue bukan tipe orang yang mampu mengungkapkan perasaan gue langsung. Jika gue marah, kesel, sebel gue lebih sering memendam itu semua dibanding meluapkannya langsung.
Menurut gue, teman itu bukan hanya perkara seneng lo, sedih lo dilakuin bareng-bareng. Berteman tidak sesederhana itu, bagi gue, berteman juga harus ada yang dikorbanin, HARUS MENYISIHKAN SIFAT EGOIS lo, berhenti bersikap MAU MENANG SENDIRI. Lo boleh menang di antara teman-teman lo, kita pun senang ngeliatnya. Tapi... berhenti deh bersikap egois huuffft.. gue jarang bisa bertoleransi dengan orang egois.
Gue emang suka sesuatu yang sempurna, nilai sempurna, tapi apa gunanya kesempurnaan itu jika temen-temen di samping lo, di sekitar lo nilainya ancur lebur. Lo pinter sendirian men, kepintaran lo gak berguna, kalau dikerucutkan lagi, lo gak berguna. Gue gak bersimpati dengan orang-orang seperti itu, gue lebih suka jalan sama-sama, minimal kalau yang lain belum bisa sejajar di samping gue, gue bakal coba merangkul mereka biar jalan sama-sama.
Yah... teman kuliah... baru 2 tahun... sisanya 2 tahun lagi... entah gue masih bisa tahan atau engga, khususnya dengan orang egois di dalamnya.
BIAR DIKATA KULIAH ITU SIDANGNYA SENDIRI-SENDIRI, WISUDANYA JUGA GAK BARENG-BARENG SEKELAS, MINIMAL SAAT LO MENINGGALKAN TEMAN-TEMAN KULIAH LO, LO BISA BERMANFAAT SEBAGAI MANUSIA YANG SELALU MEMBANTU, MEMAHAMI, DAN MEMBERI ARTI BAGI MEREKA.
Mungkin sekian posting membosankan gue....
Mungkin gue lagi butuh semangat, suasana baru...
Dan buat teman-teman kelas gue, tetap semangat. Kita berjuang sama-sama. Gue sayang kalian.

Komentar
Posting Komentar