Mengenal

Sudah hampir tiga jam mobil yang dipinjam belum juga terparkir di depan rumah Ben. Alih-alih cemas, ia justru hanya berbaring di sofa dengan mulut sibuk mengunyah cemilan di atas meja yang seharusnya diperuntukkan untuk tamu, namun ia tidak peduli, selama makanan itu masih ada di radius kekuasaannya. Kemeja yang tadinya rapi dari satu jam yang lalu, kini sudah lecek dan sebagian kancingnya terbuka karena udara panas yang menyengat. Ia sengaja tidak memasang AC di siang hari, go green. Sebuah panggilan masuk terdengar dari ponsel yang entah berada di mana, sambil meraba sofa, akhirnya ia menemukan benda berisik itu. Sebuah panggilan masuk dari Obi.

"Eh kampret, mobil gue mana ? jam lima gue harus udah sampe kampus." Tidak ada salam, dan gertakan sepertinya sudah menjadi salam baru bagi Ben.

"Sorry Ben, ini gue udah di kampus, tadi soalnya gue dapet sms kalau jam kuliah gue dimajuin. Kalau ke rumah lo dulu kayaknya gak sempat, ambil di kampus aja ya bro ?"

Ben hanya menghela napas, sepertinya hanya itu yang bisa ia lakukan, Obi memang playboy brengsek kelas kakap, pacar banyak tapi gak modal. Telepon ditutup Obi, menghindari makian pedas Ben yang sudah ia hafal,isi  kebun binatang selalu tak lupa ia absen dalam makiannya.

Ben terduduk di dalam kelas dengan napas terengah-engah. Sampai saat ini ia masih tidak mengerti dengan lalu lintas Jakarta dan sampah masyarakatnya yang begitu padat. Pergi ke kampus dengan kendaraan umum bukanlah pilihan tepat, berdesak-desakan dengan penumpang apa lagi, memuakkan. 

"Tumben masuk, dosennya ga ada padahal." Tegur Ken sambil membakar rokok ditangannya dan menghisapnya dalam-dalam.

"Beneran ? Sial banget gue hari ini, bener-bener sial." Ucapnya sambil merampas pemantik gas dari kantong Ken.

Tatapan mata Ben beralih ke depan kelas, memerhatikan sosok perempuan yang sangat ia benci selama lima semester kuliah di sini. Gayanya memang seperti perempuan normal lainnya, feminim. Tapi kalau sudah bicara, angkuhnya minta ampun. Ditambah lagi, dia perokok berat dan seorang "pemakai". Tapi bukan itu yang membuat Ben setengah mati membenci Clara, pernah pada suatu hari Clara dengan gamblangnya menyuarakan bahwa dia ateis, gadis bodoh.

"Naksir lu sama Clara ?" Tanya Ken dengan tampang menyelidik, Ben hanya menanggapinya dengan tatapan sinis.

"Semalem dia sakaw, di kosan temennya, parah banget. Sekarang gak hanya kelas kita doang yang tau dia make, satu jurusan tau."  Tutur Ken sambil membakar rokoknya yang kedua.

"Apa peduli gue ? Dia matipun gue ga peduli." Sambar Ben, ia melangkah ke luar setelah mendengar azan maghrib berkumandang dari musala. 

Setelah salat, ia tak lantas kembali ke kelas. Ada banyak hal yang sepertinya harus direnungkan, ibadahnya yang bolong-bolong sepertinya. Ketika Ben ingin memakai sepatu di teras musala, berkali-kali ia meyakinkan pandangannya kalau perempuan yang ia lihat bukanlah Clara. Clara salat ? bukannya ia ateis ?

"Sudah punya agama rupanya" sindir Ben, Clara tak bergeming, 

"Bukan urusan lo" Jawabnya sinis, namun tak segera meninggalkan Ben.

"Sakaw lo semalem ?" 

"Iya."

Dan mereka kembali terdiam, Ben hendak membakar rokoknya ketika tangan Clara kemudian menepisnya.

"Jangan pernah kotorin musala ini dengan asap dan abu rokok lo. Ini rumah Tuhan." Cegah Clara.

"Hahaha punya tuhan juga lo akhirnya."

Dan ucapan terakhir Ben membuat Clara menitikkan air mata dan rasa sesak yang tak mau hilang . Ben hanya menatap Clara dengan tatapan dingin ketika ia terisak.

"Lo gatau gimana rasanya ketika nyawa lo hampir ditarik dari ubun-ubun. Semalam ketika gue sakaw, gue rasa itulah hari terakhir gue bernapas. Sudah lama gue berhenti make, sudah satu bulan. Tapi gue apes ketika gue sakaw di kosan Fira kemarin. Yang bikin gue tenang saat itu ketika Fira nyebutin asma allah, bisikin ke kuping gue. Gue bener-bener yakin kalau tuhan masih ngasih gue kesempatan buat nyembah Dia. Karena Dia mungkin ngeliat perjuangan gue untuk gak make lagi." 

"Pede banget, ya mungkin aja itu belum waktunya lo mati. Karena kalau lo mati semalem, kasian nyokap lo yang cuma sendirian nanti. Kasian dia capek-capek ngurusin lo sampai gede, eh pas gede anak tunggalnya mati karena narkoba. Syukur deh kalau lo udah tobat." Selesai Ben mengikat simpul tali sepatunya, ia pergi meninggalkan Clara yang masih sibuk terisak. 

"Ben !" Panggil Clara, Ben menoleh ke arahnya, melihat senyum Clara yang terkembang. Clara hanya ingin mengucapkan satu hal, yang membuatnya masih berpikir ia masih dibutuhkan di dunia ini, oleh ibunya.

"Makasih"


Komentar

Postingan Populer