Tentang yang Tak Pernah Terucap
Hai Mr, selamat pagi . Mungkin saya terlalu awal mengucapkan selamat pagi untukmu, entah kenapa saya ingin saja menyapamu pagi ini. Sudah beberapa hari ini saya tidak menghubungi mu, dan begitu juga kau, tak pernah sekalipun. Mungkin kau sedang sibuk, sibuk memberi harapan palsu kepada wanita lain, benar atau tidak ? , haha saya bercanda , Mr. . Saya sedikit memikirkanmu, tidak lama, hanya beberapa menit sebelum saya tidur. Memikirkan setiap kata yang kau ucapkan dengan manis di setiap telepon-teleponmu, mulanya saya hanya menganggap itu hanya perhatian seorang sahabat, tapi suatu saat, kau mengatakan serius dengan semua yang kau katakan, apakah saya salah menganggap perasaan itu lebih, terlebih saya sedang terpuruk saat itu ?
Kau terus memberi saya semangat, perhatian, dan sesuatu yang tak pernah saya mau kenal lagi sejak hati saya disakiti, cinta. Saya sempat membenci perasaan itu, cinta hanya membuat saya seperti orang bodoh, menangis dan senang sama-sama mengeluarkan air mata, saya harus berkorban karena cinta, perasaan yang sampai saat ini saya pun masih awam untuk mengenalnya. Dan kau, Mr. kau menuntunku untuk merasakan kembali perasaan itu, tahukah kau betapa saya sangat membencinya ?
Tapi sayang, hingga kini, hanya harapan yang kau beri. Saya tidak lagi berpikir kau adalah sosok yang saya kagumi saat itu, kau hanya sekedar pemberi harapan, itu saja.
Dan kau tahu, ada orang di luar sana yang menunggu saya, menunggu saya sampai saya siap lagi mengenal cinta, dia sangat polos, dia tidak tahu kalau yang selama ini saya tunggu adalah ungkapan perasaanmu. Sepertinya perbuatan yang sangat sia-sia jika saya tetap menunggumu mengucapkan hal yang selama ini saya tunggu, sepertinya itu tak akan pernah terjadi. Yasudahlah Mr , mungkin saya yang terlalu perasa, itulah engkau, Mr. tetaplah seperti itu, menyebalkan seperti itu. Selamat tinggal, Mr.
Komentar
Posting Komentar