Selamat Menikmati
Malam itu aku menatap mata yang tidak bercahaya malam ini, sebisa mungkin getir dan getaran bibir kutahan agar tidak bergetar hebat seiring jatuhnya air mataku. Lagi-lagi ia menghela nafas berat, aku dan dia sedang menatap suasana malam dari sky dining, menatap lampu-lampu kota yang dinyalakan dengan gemerlap. Dia menahan tanganku untuk menyeka air mata yang sudah terlanjur terjun bebas dari pipi, ia yang menyeka.
"Jangan menangis lagi" pintanya untuk kesekian kalinya, aku tidak berani sekedar menatap matanya. Bagaimana aku bisa berhenti menangis kalau dengan tutur halusnya, gerak tubuhnya, ia meminta dengan sangat sopan dan sangat halus, untuk menyudahi hubungan yang sudah berjalan tiga tahun. Aku sudah bosan menanyakan alasan mengapa ia tega memutuskan hubungan ini, dia selalu menjelaskan alasan yang sama, dia hanya ingin sendiri.
"Kau hanya ingin sendiri?" tanyaku sekali lagi. Dia mengangguk, air mataku kembali menderas.
Aku berhenti menangis.
"Bagaimana dengan dirimu? aku harap kau bisa mencari penggantiku" katanya, aku mendelik ke langit, hujan.
"Entah, tanyakan saja pada hujan"
Aku pergi meninggalkan semuanya, kamu dan segala tentang kita, kutaruh sepiring kenangan di atas meja tempat kau duduk, selamat menikmati.
Komentar
Posting Komentar